Cerita Rakyat NTB: Sejarah Lengkap Batu Goloq, Arti Dari Sebuah Kelalaian

Cerita Rakyat NTB: Sejarah Lengkap Batu Goloq, Arti Dari Sebuah Kelalaian

Admin
Thursday, April 25, 2019

Cerita-Rakyat-NTB-Sejarah-Lengkap-Batu Goloq

Ruangsejarah.web.id – Nusa Tenggara Barat adalah salah satu Provinsi yang ada di bagian timur Indonesia. Daerah ini memiliki 3 suku yang mendominasi dan mendiami dua pulau besar, di Pulau Lombok ada suku Sasak dan di pulau Sumbawa ada suku Samawa dan suku Mbojo. Nah, salah satu cerita rakyat dari Provinsi NTB yang cukup menarik untuk dibahas adalah Cerita Batu Goloq

Batu Goloq ialah sejenis batu ceper yang ada dan berlokasi di sebuah wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Batu ini sangat dipercayai oleh sebagian masyarakat setempat sebagai penyebab timbulnya tiga nama lokasi yang ada di wilayah Nusa Tenggara Barat, yaitu Desa Gembong, Dasan Batu, dan Montong Teker.

Guy! Peristiwa apakah yang pernah terjadi? Mengapa Batu Goloq ini mengakibatkan munculnya tiga buah nama wilayah tersebut? Ayo, ikuti terus kisahnya dalam kisah Batu Goloq yang satu ini!
 
Awal kisah cirita pada zaman dahulu, di suatu wilayah Padamara dekat Sungai Sawing, Nusa Tenggara Barat, Indonesia, terdapat sepasang suami-istri kurang mampu dan hidup secara pas-pasan. Mereka mempunyai dua orang anak yang masih kecil.

Sang Suami mempunyai nama Amaq Lembain, sementara sang Istri mempunyai nama Inaq Lembain. Saat itu mereka bekerja sebagai buruh tani di kawasan tempat tinggal mereka. Setiap harinya mereka selalu datang ke desa-desa menawarkan tenaganya dalam jasa menumbuk padi. Setiap kali pergi menumbuk padi, mereka selalu membawa kedua anaknya untuk ikut serta bersama mereka.

Lalu pada sebuah hari, suatu ketika mereka menyelesaikan pekerjaan setengah hari, lalu mereka kembali berkeliling desa, Inaq Lembain mendapat tawaran menumbuk padi dari seorang warga desa.

Sebelum mulai bekerja, ia menyuruh kedua anaknya untuk duduk di atas Batu Goloq (batu ceper) yang terletak tidak jauh dari lokasinya menumbuk padi.

“Anakku, kalian duduklah di atas batu ini! Ibu mau menyelesaikan bekerja dulu,” ujar Inaq Lembain untuk kedua anak yang sedang bersama mereka.

“Baik, Bu!” jawab kedua anak tersebut sambil mengangguk-angguk.
Setelah itu, Inaq Lembain mulai dan melanjutkan pekerjaannya. Pada suatu ketika ia sedang asyik menumbuk padi, tiba-tiba kedua anaknya dikejutkan oleh suatu peristiwa aneh. Batu Goloq yang mereka duduki tiba-tiba bergerak dan beranjak  naik perlahan-lahan sedikit demi sedikit.

“Kak, apa yang terjadi? Kenapa batu ini bergerak? Aku takut” tanya si Bungsu dengan panik.

“Entahlah, Dik! Kakak pun tidak tahu,” jawab si Sulung bingung.

Semakin lama Batu Goloq tersebut semakin naik tinggi keatas. Keduanya merasa diangkat naik oleh batu tersebut. Mereka juga terlihat semakin panik dan ketakutan karena batu goloq semakin naik tinggi.

“Ibu...! Tolooong...! Batu ini semakin tinggi,” teriak si Sulung.

Sang Ibu yang sedang asyik menumbuk padi yang kemudian menjawab anaknya menjawab:

“Tunggulah sebentar, Anakku! Ibu sedang sibuk bekerja.”

Beberapa kali si Sulung berteriak memanggil, akan tetapi sang Ibu yang sedang menumbuk padi tetap asyik melakukan pekerjaannya menumbuk padi. Semakin lama, Batu Goloq tersebut semakin tinggi sampai melebihi pohon kelapa yang ada disekitar tempat tersebut. Kedua anak tersebut pun berteriak sejadi-jadinya dan menangis memanggil ibu mereka. Namun, sang Ibu tetap saja sibuk bekerja tanpa menghiraukan situasi dan suasana sang anak yang sudah diangkat oleh batu tersebut.

Batu Goloq tersebut makin lama kian tinggi membawa mereka sampai mencapai awan. Suara kedua anak tersebut pun kian lama kian sayup hingga akhirnya tidak tersiar sama sekali.

Ketika sang ibu tersadar bahwa kedua anaknya telah tidak berada di dekatnya, Inaq Lembain juga bingung menggali mereka.

“Anakku! Di manakah kalian. Jangan tinggalkan ibu, Nak!” ucap Inaq Lembain seraya menangis tersedu-sedu.

Alangkah terkejutnya ia setelah menyaksikan Batu Goloq lokasi kedua anaknya duduk menjulang tinggi sampai ke awan, sang ibu bingung harus bertindak apa saat melihat keberadaan batu tersebut sudah tinggi.

Ia juga menyadari andai saja kedua anaknya diangkut naik oleh Batu Goloq itu. Ia segera memohon petunjuk untuk Tuhan Yang Mahakuasa supaya diberi kekuatan untuk bagaimana dapat menurunkan kembali kedua anaknya dari batu yang telah naik tinggi tersebut.

Syahdan, doa Inaq Lembain dikabulkan. Tuhan menyerahkan kekuatan gaib pada sabuknya. Tanpa beranggapan panjang, ia juga memenggal Batu Goloq itu. Sungguh ajaib, dengan sekali tebas, batu tersebut terpenggal menjadi tiga bagian.

Bagian kesatu jatuh di sebuah tempat yang lantas diberi nama Desa Gembong, sebab menyebabkan tanah di sana bergetar saat batu tersebut terbelah dan terjatu.

Bagian kedua jatuh di lokasi yang diberi nama Dasan Batu, hal tersebut dikarenakan ada orang yang menonton jatuhnya penggalan batu ini. Sementara potongan terakhir jatuh di sebuah tempat yang memunculkan suara gemuruh, sampai-sampai tempat tersebut diberi nama Montong Teker.

Namun, malang nasib Inaq Lembain. Ia tidak dapatkan kembali kedua anaknya, sebab telah pulang menjadi dua ekor burung. Anaknya yang sulung pulang menjadi burung Kekuwo, sementara yang bungsu pulang menjadi burung Kelik. Oleh sebab berasal dari manusia, kedua jenis burung tersebut tidak bisa mengerami telurnya.
 
Demikian kisah Batu Goloq yag berasala dari suku sasak yang berada di wilayah Nusa Tenggara Barat. Cerita di atas termasuk kelompok legenda yang berisi pesan-pesan moral yang bisa dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu pesan moral yang bisa dipetik dari kisah di atas ialah bahwa andai sedang menghadapi sebuah masalah yang susah diselesaikan, usahakan agar dapat memohon petunjuk Tuhan – Allah SWT Yang Mahakuasa, penguasa bumi dan langit beserta seisinya. Hal ini diperlihatkan oleh sikap dan perilaku Inaq Lembain.

Ketika memahami dan melihat Batu Boloq membawa kedua anaknya naik ke awan, ia segera memohon petunjuk Tuhan Yang Mahakuasa, walaupun ia tidak bisa mengambil anaknya yang dikarenakan telah pulang menjadi burung. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:

wahai ananda mustika ayah,
dalam beriman janganlah goyah
betulkan akal luruskan langkah
mohonlah petunjuk kepada Allah

Pelajaran selanjutnya yang bisa kamu dipetik dari kejadian ini ialah bahwa kegiatan dalam bekerja bisa menimbulkan kelengahan pada diri seseorang, sehingga bisa menimbulkan sebuah kerugian dan penyesalan.

Hal ini terlihat pada sikap dan perilaku Inaq Lembain. Ketika kedua anaknya berteriak meminta tolong, ia tetap sibuk menumbuk padi tanpa menghiraukan suasana dan keselamatan kedua anaknya.