Siapakah Sebenarnya Arung Palakka?

Siapakah Sebenarnya Arung Palakka?

Admin
Tuesday, April 30, 2019

siapa-sebenarnya-arung-palakka

Ruangsejarah.web.id – Sebutan kata ‘Arung Palakka’ mungkin sudah tidak asing ditelinga kita dan langsung yang ada di fikiran kita adalah segala sesuatu yang identik dengan Bugis.

Namun, apakah kita sudah betul-betul tahu dan pernah membaca sejarah? So, siapa Arung Palakka?

Nah, berikut ini ulasan singkat sejarah untuk dapat kita lebih tahu tentang siapa sebenarnya Arung Palakka. Arung Palakka adalah sesosok yang dilahir di lamatta, mario-ri wawo, soppeng  pada tanggal 15 september 1634.

Hingga saat ini nama Arung Palakka selalu disebut ketika kita sedang membahas Sulawesi, beliau ini adalah orang yang berjuang kala ingin melepaskan diri dari kekuasaan Kesultanan Gowa pada Tahun 1660-an. Ia memimpin kerajaannya untuk meraih sebuah kemerdekaan dari Gowa.

Dibawa kepemimpinan Arung Palakka, suku Bugis menjadi sebuak kekuatan besar di sebuah kemaritiman dan mendominasi kawasan tersebut hingga berabad lamanya. Arung Palakka bergelar “La Tan-ri tatta To urong To-ri SompaE Petta MalampE’E Gemme’na Daeng Serang To’ Appatunru Paduka Sri Sultan Sa’admuddin, [MatinroE-ri Bontoawala], Arung Bone.

Arung Palakka meninggal di Bontoala, kerajaan Gowa yang sekarang merupakan kabupaten Gowa pada tanggal 6 april 1969 di makamkan di Bontobiraeng.

Semasa hidupnya Arung Palakka menikahi empat kali. Menikah pertama dengan Arung Kaju (bercerai). 

Lalu kemudian Beliau menikah untuk kedua kalinnya dengan sira Daeng Talele karaeng ballajawa pada 16 maret 1668 (bercarai pada 26 januari 1671), (lahir pada 10 september 1634, meninggal 11 februari 1721), sebelumya istri dari karaeng bontomaronu, dan karaeng karunrung’ Abdul hamid, mantan tuma bicara-butta gowa, anak perempuan dari I-MALLEWAI Daeng Manasa karaeng mataoya, karaeng cendrana dan kadang sebagai Tumalailng gowa, oleh istrinya, daeng mangeppe, anak dari I-mallingkaang daeng mannyon-ri karaeng matoaya sultan abdullah awwal al-islam, karaeng tallo.

Menikah ketiga kalinya di soppeng, 20 juli 1673 dengan We tan-ri pau adda sange datu ri watu [matinroe_ri madello] datu soppeng, sebelumnya istri dari la suni, adatuwang sidendreng, dan anak perempuan dari La tan-ri bali beowe II, datu ri soppeng.

Menikah ke empat kalinya pada 14 september 1684, dengan Daeng marannu, karaeng laikang (meninggal pada 6 mei 1720), sebelumnya istri dari karaeng bontomanopo muhammad, dan anak dari pekampi daeng mangempa karaeng bontomanonu, gowa.

Nah, ini yang perlu kalian ketahui , didalam beberapa kajian buku sejarah yang resmi diterbitka sebagai pegangan dalam sekolah-sekolah mengatakan bahwa Arung Palakka dijuluki pengkhianat karena minta bantuan Belanda untuk memerangi Sultan Hasanuddin. 

Namun ada kisah sejarah yang tidak semuanya terungkap, kerjasama dengan Belanda adalah salah satu strategi yang digunakan Arung Palakka untuk menaklukkan lawan-lawannya.

Dari cuplikan sejarah yang diterbitka secara resmi itu kelihatan bagaimana rancunya hasil penilaian sejarah itu. Itu disebabkan karena dalam menilai itu perlu standar. Dan standar itu tergantung dari kriteria yang dibuat oleh penilai. Dan biasanya penilai ini sangat tergantung dari kondisi yang situasional. Dan inilah yang biasa terjadi dalam sejarah.