Apakah Prabowo Layak diberi Gelar sang Penghianat Bangsa?

Apakah Prabowo Layak diberi Gelar sang Penghianat Bangsa?

Admin
Wednesday, May 1, 2019

Apakah-Prabowo-Penghianat-Bangsa
Prabowo Subianto
Ruangsejarah.web.id – Kontestasi politik saat ini kembali menentukan siapa yang akan memimpin Republik Indonesia 5 tahun kedepan. Seperti 2014 lalu, kontestan politik pemilihan presiden masih dengan calon Presiden yang sama Prabowo Subianto vs Joko Widodo, hanya saja pada posisi wakil diisi oleh muka baru yang berbeda dari sebelumnya, yaitu Sandiaga Uno dan Ma’ruf Amin.

Menarik mengulas salah satu calon presiden dengan record militer sebagai salah satu orang yang pernah menjadi bagian dari pasukan elit Kopassus. Berbagai isu menjadi menarik untuk ditelisik hingga sampai kita mengetahui akar sejarahnya.

Prabowo Subianto, nama ini mulai melambung saat sukses memimpin pasukan kala melaksanakan perintah operasi sandera di Mapenduma. Kesuksesan ini adalah yang yang paling beliau bangga-kan dalam karier militernya.

Operasi Mapenduma adalah pembebasan sandera di daerah Mapenduma, Papua. Nah, operasi ini dilaksanakan pada 9 Mei 1996, dalam operasi ini Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang dipimpin Prabowo. Misi dari operasi ini untuk menyelamatkan sebelas sandera Tim Ekspedisi Lorentz ’95. Selama 130 hari sejak 8 Januari 1996, kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) menyandera mereka.

Kopassus dibawah komando Prabowo turun tangan dalam melakukan pengejaran dan memburu OPM ke Mapenduma. Operasi berbahaya ini berlangsung selama lima hari menyusuri kawasan hutan.

Terjadi kontak senjata dengan OPM, delapan orang anggota OPM akhirnya terkena tembakkan dan mati sedangkan dua orang anggota OPM berhasil ditangkap hidup-hidup.

Sementara di pihak sandera, sembilan orang berhasil diselamatkan namun  dua sandera terbunuh. Dalam keterangannya kepada pers, Prabowo mengatakan tiada korban dari prajuritnya.

Nah, itulah sekilah sejarah rekam jejak sosok Prabowo dalam operasi yang dipimpinnya masuk dan berhadapan langsung dengan anggota bersejata OPM.

Penuturan selanjutnya datang dari salah seorang aktivis HAM yang berasal dari Tanah Papua Decki Natalis Pigay,

 “OPM meminta perhatian dunia internasional bahwa Indonesia memanipulasi perjanjian-perjanjian dan ingin menguasai Irian Jaya. OPM juga menghendaki demiliterisasi di Papua Barat, penghentian transmigrasi, serta penghentian perusakan lingkungan oleh Freeport,” catat Pigay mengutip Forum Keadilan, Nomor 22, 12 Februari 1996.

Hingga bulan Mei 1996, para sanderamasih berada di tangan OPM, kala itu penyandaan sudah memasuki hari ke-120, para korban sandera mulai mengidap penyakit dari malaria hingga tekanan psikis mereka.

Awalnya, militan OPM menuntut kemerdekaan yang kemudian di tolak oleh Pemerintah Indonesia, berbagai mediasi tad dapat dilakukan hingga akhirnya Prabowo mengusulkan untuk menempuh jalur militer dalam rangka melakukan pembebasan sandera tersebut.

Setelah usulan disetujui, pasukan Kopassus menyiapkan operasi militer mereka dengan 800 prajurit yang dilengkapi dengan persenjataan jenis AK dan SSI. Kemudian, pengantaran mereka menggunakan helikopter milik Angkatan Udara Republik Indonesia.

Strageipun mulai dimainkan, kala itu Prabowo berangkat dengan menggunakan Pesawar yang sudah di cat berwarna putih dengan lambang Palang Merah dalam rangka mengelabui militer OPM.

Mereka memiliki Desa Kinayan menjadi basis kawasan tempat menyusun strategi lanjutan dalam rangka mengepung kawasan kekuasaan OPM ini. Dalam operasi ini Prabowo juga didampingi oleh kepala Staf Kodam Cendrawasi, Brigjen Joni Lumintang

Hingga di akhir operasi ini, Tim Kopassus bersyukur karena apa yang menjadi misi mereka dapat terselesaikan dengan baik walaupun dalam operasi ini ada banyak nyawa melayang (ket: tidak ada dari Pasukan Kopassus).

Pertanyaan terakhir, apakah layak sesosok Prabowo Subianto diberi gelar sang Penghianat Bangsa?