Cerita Rakyat Gunung Kidul Yogjakarta: Sejarah Asal Mula Nama Dusun Gubuk Rubuh

advertise here
Cerita-rakyat-Gunung-Kidul-Yogjakarta-Sejarah-Asal-Mula-Nama-Dusun-Gubuk-Rubuh

Ruangsejarah.web.id -- Tak ada habis-habisnya menceritakan berbagai cerita daerah Nusantara yang begitu kaya, kali ini saya akan menuturkan Cerita Rakyat Nusantara yang berasal dari Gunung Kidul Yogjakarta. 

Secara Administrasi Resmi, keberadaan Dusun Gubuk Rubuh masih termasuk ke dalam kawasan Desa Getas, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. 

Menurut kisah dari beberapa masyarakat setempat, ternyata asal-usul timbulnya nama kampung ini bermula dari cerita panjang tentang pelarian seorang raja dari Kerajaan Majapahit. 

Nah, siapakah raja Majapahit itu? 

Bagaimana cerita perjalanannya? 

Lalu, peristiwa apakah yang terjadi sampai-sampai terlahir nama sebuah Dusun Gubuk Rubuh ini? Simak kisahnya dalam kisah legenda Asal Mula Nama Dusun Gubuk Rubuh inilah ini!
  
Begini awal kisah ceritanya, pada zaman dahulu pada suatu kerajaan besar mempunyai nama, yaitu Kerajaan Majapahit. Ibu Kota kerajaan ini terletak di wilayah Trowulan, Jawa Timur, Indonesia. 

Kerajaan Majapahit memiliki dominasi dan kekuasaan yang paling luas, yakni menghampar luas dari ujung arah utara Pulau Sumatra sampai Pulau Sumatra, Indonesia. Bahkan, wilayah dominasi dan kekuasaan kerajaan ini merangkum wilayah Malaka (Malaysia), Kamboja bagian kawasan selatan (sekarang Vietnam), dan Tiongkok.

Kerajaan Majapahit dipimpin oleh seorang raja mempunyai nama Raden Kertabumi yang bergelar Bhatara Wijaya V atau biasa dipanggil Brawijaya V. Brawijaya V ialah raja terakhir Kerajaan Majapahit. 

Sebagai Raja yang besar, Raja Brawijaya V mempunyai pengaruh dan kekuasaan yang paling besar terhadap raja-raja yang menguasai kawasan-kawasan kerajaan kecil di negeri-negeri jajahannya. Oleh sebab itulah, nyaris setiap negeri jajahan itu senantiasa mengantarkan upeti, baik berupa perhiasan maupun hasil bumi untuk Raja Brawijaya V sebagai tanda persahabatan. 

Bahkan, beberapa dari raja negeri-negeri taklukan atau jajahan itu ada yang menjadikan putri-putri tercantik mereka sebagai upeti sebagai persembahan untuk penguasa Kerajaan Majapahit. Tidak mengherankan andai Raja Brawijaya V memiliki tidak sedikit istri dan selir.

Suatu ketika, Kaisar Yan Lu dari Kekaisaran Tiongkok mengirim putrinya sebagai upeti guna dipersembahan untuk Prabu Brawijaya V. Putri itu mempunyai nama Tan Eng Kian yang mempunyai paras cantik, indah nan menawan. Persembahan upeti itu dimaksudkan guna mempererat tali kekerabatan antara Kerajaan Majapahit dengan Kekaisaran Tiongkok. Prabu Brawija V juga menikahi Putri Tan Eng Kian dan hidup bahagia. Namun, kebahagiaan tersebut tidak bertahan lama.

Rupanya, kehadiran Putri Tan Eng Kian kehadiran Putri Campa memunculkan kecemburuan untuk istri tua dan selir dari Prabu Brawijaya yang lain, khususnya Ratu Dewi Anarawati. Ratu Dewi Anarawati ialah seorang putri dari Kerajaan Champa yang dipersembahkan oleh Raja Champa untuk Prabu Brawijaya.

Suatu waktu, Ratu Dewi Anarawati memohon untuk Prabu Brawijayasupaya Tan Eng Kian disingkirkan dari istana. Prabu Brawijaya juga mengambulkan permohonan itu. 

Pada akhirnya, sang Prabu dengan berat menghibahkan Putri Tan Eng Kian yang sedang dalam keadaan hamil tersebut kepada Arya Damar, Adipati Palembang yang berasal dari keturunan China muslim.

Adipati Arya Damar juga menerima hadiah tersebut dengan senang hati sebab menerima pemberian hadiah seorang janda Raja Majapahit ialah suatu kehormatan. 

Setelah Putri Tan Eng Kian melahirkan, Arya Damar juga menikahi putri berdarah Cina itu. 

Anak yang bermunculan dari rahim Tan Eng Kian ialah seorang anak pria dan diberi nama Jin Bun atau dikenal dengan sebutan nama muslim Raden Hassan. 

Sementara itu, dari hasil perkawinan Arya Damar dengan Tan Eng Kian, lahirlah lagi seorang putra dan diberi nama Hussein.

Sejak kecil, Raden Hassan dan Raden Hussein dididik oleh Adipati Arya Damar dengan edukasidan bimbingan kajian islami. Menjelang dewasa, Raden Hassan memohon ijin terhadap ibunya untuk mendatangi dan menemui ayah kandungnya, Prabu Brawijaya, di tanah Jawa. Tan Eng Kian tidak dapat menghalangi kemauan dan hasrat putranya untuk bertemu sang ayah. Dari Palembang, Raden Hassan pergi bareng saudara tirinya, Hussein bertolak ke Jawa.

Sampailah ia di pelabuhan Gresik yang ramai. Melihat suasana dan kondisi Gresik yang hiruk-pikuk, Raden Hassan kagum. Dia dapat membayangkan bagaimana besarnya dominasi dan kekuasaan Majapahit. Melihat di Gresik tidak sedikit orang muslim, Raden Hassan tertarik dan menyimpulkan untuk berguru untuk Sunan Giri dalam rangka memperdalam ilum agama Islam.

Tak lama kemudian, Raden Hassan dan Raden Hussein melanjutkan perjalanan ke Pesantren Ampel guna berguru dan bertemu langsung dengan Sunan Ampel. 

Ia juga disambut suka cita oleh Sunan Ampel dan diberi nama baru oleh Sunan Ampel, yakni Raden Abdul Fattah, lantas dikenal oleh masyarakat Jawa dengan nama Raden Fatah.

Setelah merasa lumayan memperdalam ilmu agama, dua-duanya melanjutkan perjalanan. Raden Hussein mengarah ke Kerajaan Majapahit guna mengabdikan diri, tetapi dengan tetap menyembunyikan jatidirinya. 

Kecakapan Raden Hussein menciptakan karirnya di Kerajaan Majapahit melesat dengan cepat, sampai ia diandalkan  untuk menjabat sebagai Adipati Terung.

Sementara itu, Raden Fatah pergi ke Jawa Tengah guna membuka hutan dan membina sebuah pesantren yang diberi nama Pesantren Glagahwangi. Atas kepemimpinannya, pesantren tersebut semakin lama semakin maju dengan pesatnya.

Suatu waktu, Raden Hussen yang sudah menjadi Adipati Terung mengundang Raden Fatah ke kediamannya. Ia bermaksud menyuruh kakak tirinya tersebut untuk mendatangi Prabu Brawijaya V di Kerajaan Majapahit.

“Kanda, Raden Fatah. Sebaiknya kita mendatangi ayahanda Kanda di Majapahit,” ujar Raden Kusen.

“Baiklah. Terima kasih atas keikhlasan Adinda mendampingi Kanda. Kanda pun telah tidak sabar hendak bertemu dengan beliau,” kata Raden Fatah.
Keesokan harinya, dua-duanya pun berangkat ke Kerajaan Majapahit. Setiba di sana, Raden Kusen langsung mengenalkan Raden Fatah untuk Prabu Brawijaya V.

“Ampun, Baginda Prabu. Hamba menghadap dan juga saudara tiri hamba, Raden Fatah,” ungkap Raden Kusen di hadapan Prabu Brawijaya V.

“Lalu, apa maksud kedatangan kalian ke sini?” tanya sang Prabu.
“Ampun, Baginda. Perlu Baginda ketahui bahwa Raden Fatah ini putra Baginda, sementara hamba sendiri ialah anak tiri sekaligus cucu Baginda,” aku Raden Kusen.

“Apa katamu?” Terdengar suara Brawijaya tersentak kaget, “Hai, kalian tidak boleh mengaku-ngaku sebagai putraku!”

“Benar. Saya ini putra Baginda,” sahut Raden Fatah.

Prabu Brawijaya juga semakin bingung. Ia merasa bahwa dirinya tidak memiliki putra mempunyai nama Raden Fatah. Setelah Raden Fatah dan Raden Kusen mengisahkan asal usul mereka bahwa mereka ialah anak dari Putri Campa, barulah Prabu Brawijaya mulai percaya.

“Tapi, bukankah ibunda kalian terdapat di Negeri Palembang? Bagaimana kalian dapat sampai ke sini?” tanya Prabu Brawijaya.

Raden Kusen dan Raden Fatah juga menceritakan cerita perjalanannya dari Palembang sampai tiba ke Jawa. Mendengar kisah itu, Prabu Brawijaya juga semakin percaya dan kesudahannya mengakui Raden Fatah sebagai putranya. Raden Fatah pun diusung menjadi Bupati Glagahwangi yang lantas berganti nama menjadi Demak dengan ibukota di Bintara. Berdasarkan keterangan dari cerita, Raden Fatah pindah dari Surabaya ke Demak selama tahun 1475.

Dengan ditolong pamannya, Pangeran Sabrang Lor, Raden Fatah mengembangkan Demak Bintoro menjadi pelabuhan dagang yang ramai. Dalam masa-masa singkat, semua pedagang muslim dari Cina pun tidak sedikit yang menetap di wilayah itu, khususnya di wilayah Semarang, Lasem, Juwana, dan Tuban. Dua tahun kemudian, Raden Fatah yang sudah dinobatkan menjadi Sultan Demak menaklukkan Semarang yangtergolong wilayah bawahannya.

Mendengar kabar tersebut, Prabu Brawijaya V juga mulai cemas kalau-kalau putranya tersebut akan memberontak. Ketika itu, Raden Fatah memang berniat guna menyerang Kerajaan Majapahit dan mengislamkan ayahandanya beserta semua rakyatnya. Namun, saat niat tersebut ia sampaikan untuk Sunan Ampel, sang Sunan malah menasehatinya.

“Jangan, Den! Sebaiknya Raden tidak boleh memberontak pada Kerajaan Majapahit!” ujar Sunan Ampel untuk Raden Fatah., “Walaupun bertolak belakang agama, Prabu Brawijaya tetaplah ayahanda Raden.”

Raden Fatah pun membatalkan niat tersebut. Setelah Sunan Ampel meninggal dunia, Raden Fatah dengan niat dan tekadnya menyerang Kerajaan Majapahit. 

Dalam serangan tersebut, Prabu Brawijaya V dan semua pasukannya kalah. Oleh karena mereka yang ada di kerajaan Majapahit malu disuruh masuk Islam oleh putranya, ia dan sejumlah pengikutnya melarikan diri ke wilayah barat sampai tiba di kawasan Gunungkidul yang terletak di bagian bagian selatan Yogyakarta. 

Sang Prabu tidak berani melarikan diri ke arah utara karena wilayah itu telah dikuasai oleh tentara Demak dan di pantai arah utara Jawa sudah dihuni oleh semua pedagang muslim.

Raden Fatah yang memahami arah pelarian ayahandanya segera mengejar karena beliau menginginkan sang Ayah masuk agama Islam. Sementara itu, Prabu Brawijaya V bareng pengikutnya yang telah tiba di Gunungkidul terus menyusuri hutan berlantara. 

Suatu ketika, Prabu Brawijaya V dan juga para pengikutnya berhenti di suatu hutan lebat. Sang Prabu beristirahat di suatu gubuk yang sedang di tengah hutan itu.

Tanpa mereka sadari, ternyata Raden Fatah dan pasukannya pun sudah berada di wilayah itu. Ketika mereka sedang asyik beristirahat, tiba-tiba pasukan Raden Fatah datang menyergap. Akhirnya, pasukan Prabu Brawijaya V juga menyerah dan menjadi bagian dari Raden Fatah. Sementara itu, Prabu Brawijaya dan dua orang istri serta sejumlah panglimanya mampu meloloskan diri. Pasukan Prabu Brawijaya V yang tertangkap tersebut pun masuk agama Islam atas nasihat Raden Fatah. Di gubuk itu, mereka diajari teknik melaksanakan shalat.

Sejak itulah, wilayah tersebut diberi nama Dusun Gubuk Rubuh, yang berasal dari kata gubuk yaitu lokasi mereka kali pertamanya mengemban shalat, dan kata rubuh yang berarti “runtuh” mempunyai dua pengertian, yaitu definisi secara jasmani dan secara batin. Secara fisik, kata rubuh ditafsirkan sebagai rubuhnya badan pada ketika shalat dari posisi berdiri ke posisi rukuk, lantas ke posisi sujud. Secara batin, rubuh ditafsirkan runtuhnya iman ataukepercayaan mereka dari kepercayaan agama Hindu menjadi kepercayaan agama Islam.

Sementara itu, Prabu Brawijaya V dan kedua istrinya yang masih mampu melarikan diri mendarat di Pantai Selatan Gunungkidul. Di sana, mereka memasuki kawasan jalan buntu. Mereka tidak tahu mesti berlari ke mana lagi. Jika pulang ke arah utara akan bertemu dengan pasukan Raden Fatah, dan jika mereka lari ke arah selatan akan terhalang oleh laut samudra. 

Sang Prabu juga merasa bahwa mungkin hidupnya akan hanya sampai di situ. Ia pun menyimpulkan untuk menyelesaikan hidupnya dengan menghanguskan diri sampai tewas sebab seluruh tubuhnya kosong atau terbakar. Oleh masyarakat setempat, pantai lokasi Prabu Brawijaya V menghanguskan dirinya itu disebut Pantai Ngobaran, yang merupakan dari kata kobar atau kobong.

Demikian kisah Asal Mula Nama Dusun Gubuk Rubuh dari Yogyakarta. Berdasarkan keterangan dari salah sesepuh Dusun Gubuk Rubuh, semua ulama dan pemerintah setempat pernah bercita-cita guna mengubah nama kampung ini menjadi “Sumber Mulyo”, tetapi masyarakat setempat menolaknya sampai-sampai nama Gubuk Rubuh tetap digunakan sampaiketika ini. 

Pendidikan agama Islam juga berkembang dengan pesat dikampung ini. Hingga kini, di Dusun Gubuk Rubuh ada lembaga edukasi dari sekian banyak  jenjang, yakni mulai dari tingkat edukasi PAUD, Taman Kanak-kanak, Madrasah Ibtida’iyyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, sampai Pondok Pesantren. Tidak mencengangkan jikakampung ini menjadi kehormatan hati Desa Getas sebab satu-satunya desa di Gunungkidul yang semua penduduknya beragama Islam.

Adapun pesan moral yang bisa dipetik dari kisah di atas ialah bahwa alangkah pun kemauan kita guna memaksa seseorang beralih keyakinan, bila bukan orang tersebut sendiri yang menghendaki, maka urusan tersebut tidak bakal terjadi. Seperti halnya Raden Fatah, walaupun ia telah berjuang mengejar ayahnya sampai kewilayah Gunungkidul untuk disuruh masuk Islam, tetapi sang Ayah lebih memilih bunuh diri daripada memenuhi anjuran putranya.