Alur Penegakan Kekuasaan Hingga Keruntuhan Kerajaan Mataram

advertise here
Penyebab-Keruntuhan-Kerajaan-Mataram-lombok

Ruangsejarah.web.id -- Sistem pemerintahan yang digunakan pada masa itu adalah pemberian hak otonomi terbatas kepada desa di wilayah Timur Juring.

Setiap desa mengangkat para pemuka desa untuk memungut upeti dan pajak, tetapi mereka mendapat pengawasan langsung dari seorang Bali.

Untuk memantapkan dan menegakkan kekuasaannya, Anak Agung membuat peraturan-peraturan sebagai berikut:

  • Peraturan tentang pertanahan.
  • Menghapus gelar "Raden" bagi orang Sasak.
  • Menghapus prasasti dan silsilah bagi orang Sasak.
  • Memperluas perjudian sabung ayam.
  • Pembagian harta peninggalan didasarkan bahwa jika seseorang meninggal dengan tidak mempunyai anak laki-laki, maka harta peninggalannya itu menjadi hak milik raja).
  • Pemberian gelar "Jero" bagi pimpinan Sasak.
  • Pemerasan tenaga kerja untuk pengabdian kepada raja.

Awal mula mengarah kepada keruntuhannya

Atas kondisi tersebut, para pemuka Sasak meminta pemerintah Hindia-Belanda untuk ikut campur dalam menangarii perang Lombok. Setelah menerima permintaan bantuan persenjataan bagi rakyat Sasak, pemerintah Belanda mengirimkan utusannya untuk melihat secara langsung keadaan orang -orang Sasak.

Dalam peninjauannya di Pulau Lombok itu, Liefrinck melaporkan keadaan yang sesungguhnya, yaitu terjadi berbagai penderitaan seperti terjadinya bencana kelaparan dan wabah penyakit yang menimpa orang-orang Sasak.

Laporan dari Liefrinck, utusan pemerintah Belanda tersebut, sangat berpengaruh atas pemerintahan dan kekuasaan Bali di Lombok. Laporan ini ditanggapi dengan sangat teliti oleh pemerintah Belanda di Batavia.

Belanda pun sangat perlu untuk ikut campur menyelesaikan perang Lombok.

Belanda berupaya untuk mempertemukan orang Sasak dan Mataram, akan tetapi menemui jalan buntu. Akhirnya Belanda mengeluarkan ultimatum yang memberatkan Mataram.

Pada mulanya Mataram menolak permintaan tersebut, akan tetapi kemudian meminta menunda jawaban. Pihak Mataram selalu mengulur-ulur waktu. Melihat gelagat tersebut, Belanda mendaratkan pasukannya di Ampenan. Maka man tidak mau, ultimatum tersebut harus diterima.

Setelah itu, Belanda menggelar pasukannya dan memindahkan markasnya di tanah lapang di muka Pura Meru agar pembicaraan berjalan cepat dan lancar. Belanda memaksa pihak Mataram untuk menandatangani surat perjanjian yang disaksikan oleh pemuka-pemuka Sasak.

Jenderal Van Ham menemui para pemuka Sasak tersebut di Sisik Labuhan Haji, dan meminta mereka agar datang ke Cakranegara. Akan tetapi pemuka-pemuka Sasak menolak undangan tersebut. Setelah mendapat penjelasan secara langsung dari Panglima pasukan, akhirnya para pemuka Sasak menyepakati untuk datang ke Mataram dengan mengirim dua orang utusan.

Adapun isi perjanjian antara Mataram dan Belanda yang tertanggal 7 Juni 1843 M sebagai berikut:

  • Mataram mengakui kedaulatan Belanda atas pulau Lombok.
  • Mataram tidak lagi melakukan hak adat tawan karang.
  • Mataram akan melindungi kepentingan perdagangan Belanda.
  • Mataram tidak lagi kontak atau melakukan perjanjian dengan bangsa kulit putih lainnya.
  • Sebagai imbalan-Mataram diberi hak otonomi penuh oleh Belanda dalam melaksanakan pemerintahan di Lombok.

Kedatangan utusan Sasak tersebut justru meninggalkan permasalahan baru. Mereka justru meninggalkan tempat perundingan dan memulai peperangan. Keadaan ini menyebabkan banyak pasukan Belanda meninggal, salah satunya Jenderal Belanda adalah Jenderal Van Ham.

Pada tahap selanjutnya, Belanda mengirim ekspedisi yang sempurna dan melakukan penyerangan terhadap Mataram dari berbagai penjuru. Serangan Pada tahun 1894 M tersebut berhasil menghancurkan dan membakar puri hingga hampir rata dengan tanah. Mataram kemudian dapat ditaklukkan.

Peristiwa penting yang terjadi pada waktu itu ialah ditemukannya keropak(naskah lontar) Desawarnama yang kemudian terkenal dengan nama Negarakertagama. Menurut Brandes, naskah ini diketahui sebagai satu-satunya naskah yang berisi gambaran paling lengkap tentang kerajaan Majapahit.