Perang Praya I: Aksi dan Simbol Perlawanan Terhadap Kebijakan Kerajaan Mataram

advertise here
Perang-Praya-Perlawanan-Terhadap-Kerajaan Mataram

Ruangsejarah.web.id -- Penaklukan selanjutnya diarahkan ke Praya yang dipimpin oleh Raden Wiracandra. Berkali-kali Raden Wiracandra ke Mataram, tetapi setiap kedatangannya selalu membawa pengiring yang sangat banyak dan bersenjata lengkap. Praya sudah menyadari bahwa malapetaka bagi dirinya hanya menunggu giliran saja. Praya sudah tidak tahan lagi memelihara persahabatan dengan Mataram.

Beberapa hal yang menjadi sebab perang Praya I ini antara lain:

  • Kerajaan Mataram merobek-merobek (melanggar) perjanjian antaraArya Banjar Getas dengan I Gusti Ketut Karangasem.
  • Daerah kekuasaan Banjar Getas sejak lama telah digerogoti sedikit demi sedikit dengan mendirikan desa-desa otonom dibawah perintah langsung dari Mataram.
  • Dalam usahanya untuk menguasai seluruh Lombok, Kerajaan Mataram selalu menjalankan politik adu domba antara para pemimpin Sasak. d. Raden Wiracandra difitnah akan menyerang Mataram.

Usaha terakhir Mataram untuk menaklukkan Praya secara halus, adalah dengan melamar putri Raden Wiracandra yang ditolak oleh Praya. Maka untuk menyerang Praya, raja Mataram menghasut desa-desa tetangganya untuk memusuhi Praya.

Akibat hasutan Mataram itu, seolah -olah Kopang dan Batukliang itu menjadi musuh utama bagi Praya, maka Praya menyerang Batukliang dan Kopang. Kedua desa itu mendapat bantuan dari Mataram di bawah pimpinan Ratu Gde Wanasara yang didampingi oleh I Made Rai dan Gusti Made Kaler. Untuk menghindari korban yang lebih banyak, terutama anak- anak dan wanita, maka raja Mataram memerintahkan supaya Praya ditunggu di perbatasan Praya dan Batukliang.

Wilayah Praya dikepung oleh pasukan Batukliang, Kopang dan Mataram serta diperkuat pasukan dari Batujai, Suradadi, Penujak, Jonggat Puyung, Rarang, dan Sakra.

Hampir setengah tahun lamanya terjadi perang tiada berkesudahan, sehingga menimbulkan bencana kelaparan. Beberapa orang pasukan yang keluar untuk mencari makanan dibunuh oleh para musuh. Hal itu menyebabkan Raden Wiracandra dan pembantunya gelisah.

Mereka bertekad untuk perang fisabilillah. Pada peperangan tersebut, Raden Wiracandra tewas. Pasukan rakyat yang fanatik, dibawah pimpinan Haji Umar menjalani perang fisabilillah.

Semuanya gugur di medan perang. Raden Tunggul, putra dari Raden Wiracandra dapat meloloskan diri dan pergi ke Bugis. Para putri-putri Raden Wiracandra dan tawanan yang lain dan sebagian lagi dibuang ke Bali dan Tanjung (Lombok Utara), beberapa dari mereka ada pula yang dibunuh. Sejak itu Praya berada di bawah kekuasaan Anak Agung Gde Ngurah, raja Karangasem.

Sedangkan di Praya diangkat seorang pimpinan dari keturunan Banjar Getas bernama Mamiq Sapian.

Hancurnya kerajaan Praya menambah martabat Kopang dan Batukliang. Hal ini tidak menyenangkan raja Mataram. Politik pecah-belah terus dijalankan. Beberapa tahun setelah perang Praya pertama, Jero Wirasari pimpinan Kopang, dipanggil ke Mataram.

Ketika Jero Wirasari berangkat bersama para pengiringnya, ia didakwa dan difitnah akan memberontak ke Mataram.

Raja memerintahkannya untuk ke Pemenang (Lombok Utara) dan tanpa disadari kemudian dikeroyok dan dibunuh oleh pasukan Mataram di bawah pimpinan Gusti Ketut Ning. Jenazahnya dimakamkan oleh para pengiringnya di Pemenang. Sejak saat itu Kopang mengalami kemunduran.

Rencana Raja Mataram untuk menguasai desa demi desa semakin menjadi jadi, sehingga ia tidak lagi membedakan kawan atau lawan, yang penting tujuannya tercapai dengan mudah dan cepat. Satu-persatu sekutunya dihancurkan. Hal ini sangat menggelisahkan para pemimpin Sasak. Mereka tidak dapat bersatu akibat politik Mataram yang sangat cerdik.

Lima bulan setelah Kopang, tiba giliran Batu kliang menuai masalah. Raden Sumintang diminta datang ke Mataram. Para bangsawan dan pembantunnya melarang beliau datang ke Mataram untuk memenuhi surat panggilan dari Anak Agung Mataram itu.

Setelah tiga kali surat diterima dan tidak dihiraukan juga; maka Mataram mengirim pasukan di bawah pimpinan Gusti Made Sangka untuk menangkap Raden Sumintang dalam keadaan hidup atau mati. Agar Batukliang tidak bernasib seperti Praya, Raden Sumintang menyerahkan diri di Aik Gering kepada pasukan yang akan menangkapnya. Disitulah beliau dibunuh oleh Gusti Made Sangka.

Melihat Radennya dibunuh, para pengiringnya bernama Tati' Engkis tidak dapat menahan diri lalu mengamuk. Tetapi baru dapat menewaskan seorang musuh, ia pun tewas. Jenazah Raden Sumintang dimakamkan di Batukliang.