Sejarah Awal Munculnya Islam Wetu Telu di Pulau Lombok

advertise here
Sejarah-Islam-Wetu-Telu-di-Lombok

Ruangsejarah.web.id -- Islam Wetu Telu (atau juga Waktu Telu) adalah sistem kepercayaan sinkretik hasil saling-silang ajaran Islam, Hindu, unsur animisme dan antropomorfisme (Boda).

Tawalinuddin Haris, 2002, menyarakan sinkretisme semacam itu tercermin pula pada sejumlah lontar yang ditemuKan di Lombok. Banyak diantara lontar tersebut yang dim
ulai dengan lafal "Bismillah" tapi selanjutnya memberikan ajaran yang jelas jelas berdasarkan filsafat Hindu dan Budha.

Oleh karena itu, mungkin ada benarnya juga ketika Vogellaesang mengatakan bahwa Islam Waktu Telu adalah agama Majapahit (Hindu dan Budha) yang sudah dibalut dengan ajaran Islam.

Sinkretisme ini juga terjadi pada orang-orang Bali yang tinggal di Lombok, baik dalam hal bahasa, berpakaian bahkan dalam kegiatan keagamaan.

Dalam sebuah upacara di Pura (odalan) misalnya, terdapat tembang "Turun Taun" yang biasanya ditembangkan oleh orang-orang tua etnis Bali dilombok seperti: "Miaq sunggar siq galih belimbing, lolon waru sedin langan. Silaq lumbar kaji ngiring, adeq aru rawuh ring Pure.

Sampai saat ini, komunitas Islam Wetu Telu masih terdapat di kawasan Tanjung dan beberapa desa di kecamatan Bayan seperti Loloan, Anyar, Akar -Akar, dan Mumbul Sari. Sedangkan dusun -dusunnya memusat di Senaru, Barung Birak, Jeruk Manis, Dasan Tutul, Nangka Rempek, Semokan dan Lendang Jeliti.

Bahkan sisa-sisq, kepercayaan bahwa suatu benda memiliki fungsi magis masih tersisa sampai sekarang. Masyarakat yang berziarah di Loang Balok Lombok Barat misalnya, biasanya menggantungkan harapan pada sesuatu (benda) dengan cara mengikat dan menganyam secara sederhana akar dari pohon beringin.

Jika harapannya telah tercapai, maka ikatan dan anyaman yang telah dibuat tersebut dibuka kembali, apabila tidak dibuka biasanya dianggap bisa mendatangkan kesialan dalam hidupnya.

Selanjutnya kemunculan Islam Waktu Telu disebabkan oleh hal-hal berikut:

Akibat dari proses Islamisasi yang belum tuntas sebagai penyebab utama munculnya Islam Waktu Telu. Dengan rincian:

  1. Kedatangan Islam pada saat kuatnya kepercayaan tradisional seperti animisme, dinamisme, antropomorlisme atau yang disebut Boda.
  2. Dominasi ajaran Hindu Majapahit yang telah berakar kuat di masyarakat.
  3. Para muballigh yang menyampaikan ajaran agama Islam terburu meninggalkan tempat tugasnya untuk menyebarkan agama Islam ke tempat lain seperti Sumbawa, Dompu, dan Bima, sementara para murid yang diserahi tugas melanjutkan pengajaran agama Islam belum tuntas atau belum cukup memiliki wawasan keilmuan tentang Islam yang mendalam.
  4. Keenganan dan ketidakma,mpuan menafsir-kembangkan ajaran Islam dengan lebih sistematis, rasional dan aktual.


Metode Dakwah yang sangat toleran dengan komitmen untuk tidak merusak adat istiadat setempat. Sikap toleran para mubaligh terhadap kepercayaan lokal tradisional ini menimbulkan persepsi tersendiri di kalangan masyarakat Sasak bahwa sejatinya ajaran Islam tidak berbeda dengan kepercayaan leluhumya.

Bahkan terjadi perundingan antara Sunan Prapen dengan para pemuka di Bayan yang melahirkan kesepakatan bahwa masyarakat akan memeluk agama Islam dengan syarat mereka tetap dibiarkan mempertahankan adat budaya nenek moyang beserta segala institusi sosialnya.

Hal ini sangatlah beralasan karena Islam khas Jawa bawaari Sunan Prapen adalah ajaran Islam bercita rasa sufisme-mistisisme yang sudah tentu sangat tpleran pada ajaran nenek moyang, yang terpenting, secara substantif ajaran tersebut mampu mengantar manusia berhubungan dengan Tuhannya.

Secara umum kebijakan politik keagamaan para penguasa Hindu-Bali di Lombok memang cukup menghambat proses-proses pembinaan keagamaan umat Islam. HA-hal tersebut diantaranya adalah;

# Menghalang-halangi umat Islam yang berangkat naik haji.

# Para tokoh masyarakat dan agama diadu domba melalui pola-pola sistematis seperti wanita Sasak yang kawin dengan laki-laki Hindu dipaksa untuk pindah ke agama suami atau mencampuradukkan keyakinannya.

# Mobilisasi judi di setiap desa. Kenyataan ini seringkali menimbulkan kerancuan dan secara simultan menyuburkan berkembangnya Islam Waktu Telu.

Penyebaran agama Hindu juga secara aktif dilangsungkan menyusul stmakin pudarnya keislamanpadamasyarakat Sasak.

Terdapat juga seorang "misionaris"bemamaDanhyang Nirartha, seorang pendeta berkasta Brahmana yang.aktif beru~aha menyebarkan Hindu berdasar mandat dari raja Bali.

Dalam praktiknya, ia mencoba meramu antar unsur dalam ajaran Islam, Hindu, dan aliran kepercayaan tradisional (Boda) di masyarakat islam Sasak. Hal inilah yang memicu munculnya ajaran Wetu Telu.