Menelisik Sekilas Sejarah Kerajaan Dana Mbojo di Bima

advertise here

Sejarah-Kerajaan-Dana-Mbojo-di-Bima

Ruangsejarah.web.idIndonesia Kaya, sangat benar sekali! Ungkapan ini seiring sejaralan dengan keanekaragaman yang dimiliki Indonesia. Mulai dari tanahnya yang subur, suku Bangsa yang terdiri dari banyak suku, bahasa yang tak terhitung jumlahnya, hingga sejarah lampau yang begitu istimewa. So, gelar ‘Indonesia Kaya’ sangat pas melekat di tanah air tercinta ini.

Namun kali ini kita bukan akan membahas berbagai macam kekayaan tersebut, namun akan fokus kepada sejarah lampau yang dimiliki oleh salah satu daerah yang ada di Timur Indonesia. Bima, ya! Bima, sebuah kawasan yang ada di ujung timur Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Bima yang saya maksudkan kali ini adalah salah satu wilayah yang ada di Indonesia (sedangkan sukunya disebut Mbojo).

Oh iya, for your information, Bima itu ada dua loh pertama Kota Madya Bima dan Kabupaten Bima. Secara administratif, kedua kawasan ini berada di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Posisi wilayah ini terletak di paling ujung timur Pulau Sumbawa (tentangganya Pulau Lombok).

Guys, ternyata di Bima (Kabupaten Bima dan Kotamadya Bima) ini merupakan sebuak kerajaan Maritim. Lokasi Bima yang berdekatan dengan Laut menjadikan Bima sebagai sebuak kerajaan Maritim yang sangat diperhitungkan kala itu. Dibidang perniagaan Kerajaan Bima sangat Kuat sekali kala itu.

Kilasan Umum Tentang Kerajaan Dana Mbojo di Bima

Sekitar pada akhir abad XV sampai awal abad XVI Bima yang merupakan kerajaan Maritim mencapai puncak pembuktian sebagai kerajaan yang kuat dalam perniagaan dan politik.
Kala itu, Kerajaan Bima dipimpin oleh Raja Manggampo Donggo dan Ma Wa’a Npada. 

Menurut Catatan Tome Pires - seorang berkebangsaan Portugis, menceritakan bahwa pada tahun 1513 Masehi Bima  dipimpin oleh seorng raja yang memiliki banyak perahu, bahan makanan dan kayu sopang yang dibawanya ke Malaka (Malaysia) untuk dijual ke China.

Selanjutnya, Pada abad XVII Masehi, Kerajaan Dana Mbojo di Bima berubah menjadi salah satu tempat penyiaran Agama Islam di bagian timur Nusantara. Kala itu, kerajaan Bima bersama dengan Kerajaan Ternate dan Makasar.

Pada awal abad XVII Masehi, kelompok Belanda pada akhirnya berhasil melunakkan Sultan Mandarsyah Ternate dan kemudian pada tahun 1669 dapat melumpuhkan kekuatan besar yang ada di Kerajaan Makassar sebagai kesultanan yang disegani di Indonesia bagian timur.

Kala itu Pemerintahan kesultanan Bima ketika itu dipimpin oleh Abil Khair Sirajudin atau sultan Bima ke dua yang menjabat pada tahun 1640-1682. Menurut sejarah, kesultana Bima bertahan dari tahun 1640 sampai dengan 1950.

Nah, mari kita bahas lebih dalam tentang kerajaan yang ada di Bima ini:

Tadi sudah disebutkan jika bima merupakan salah satu kawasan yang termasuk kedalam Provinsi Nusa Tenggara Barat atau lebih sering dengan sebutan NTB. Awalnya, kawasan ini tergabung didalam Provinsi Sunda Kecil yang membawahi Bali, Lombok, Pulan Sumbawa dan kawasan-kawasan yang ada di Nusa Tenggara Timur.

Dengan terbentuknya propinsi daerah tingkat I Nusa Tenggara Barat melalui UU No. 64/ 1958, maka sebagian besar wilayah kerajaan bima yang pada waktu itu masih berstatus sebagai Swapraja menjadi wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Bima dengan Ibu kotanya di Raba-Bima.

Pulau Sumbawa sendiri memiliki beberapa kerajaan yang terkenal. Misalnya, Kerajaan Dompu, Kerajaan Sanggar, Kerajaan Tambora, Kerajaan Papekat, Kerajaan Sumbawa dan Kerajaan Bima itu sendiri.

Sejak kapan dan siapa Pendiri Kerajaan Bima?

Kapan Kerajaan Bima berdiri ? atau Siapa yang mendirikan Kerajaan Bima? Dua pertanyaan ini masih menjadi misteridalam penelitian sejarah. Merujuk kedalam Kitab Negara kertagama yang ditulis Mpu Prapanca tahun 1365 M, telah disebutkan beberapa kerajaan yang ada di Pulau Sumbawa seperti Kerajaan Taliwang, Kerajaan Dompu, Kerajaan Sape, Kerajaan Sanghyang Api, Kerajaan Bhima, Kerajaan Seram atau Seran, Kerajaan Hutan Kadali termasuk dalam wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit. 

Menurut penelitian atau para ahli Arkeologi berpendapat bahwa beberapa nama kerajaan yang disebutkan tersebut merupakan kerajaan yang berlokasi di pulau Sumbawa atau sebagai tempat singgah (pelabuhan) para pelaut yang kemudian di taklukkan oleh kerajaan Majapahit kala itu.
Ada beberapa hal yang menjadi Sumber Benda dalam penelitian sejarah Bima. Bukti-bukti tersebut berupa artefak, prasasti dan manuskrip.

Hasli penemuan para ahli arkeologi tersebut dijadikan sebagai sumber yang menceritakan tentang bagaimana fase awal sejarah sejak masa prasejarah hingga masuknya Islam dikawasan Bima.

Adapun benda-benda bersejarah tersebut adalah Pertama, ditemukan dua prasasti yang berlokasi di sebelah barat Teluk Bima, Prasasti tersebut berbahasa Sanskerta dan satunya lagi berbahasa Jawa kuno.

Para Pakar Arkeologi tersebut menyimpulkan bahwa kedua bahasa tersebut pernah berkembang di Bima, yaitu Bahasa Sanskerta dan Bahasa Jawa Kuno. Selain hal tersebut juga ditemukan naskah-naskah kuno yang ditulis di era Islam.

Beberapa hal tersebut dijadikan sebagai bukti untuk membuktikan serta mengungkap misteri sejarah yang tersipan di Bima. Naskah kuno berbahasa Melayu tersebut menceritakan kehidupan sejak abad ke-17 hingga 20 M. Disebutkan juga jika Bahasa Bima juga sudah berkembang pada saat itu, hanya saja penggunaan Bahasa Bima hanya pada Tahap Lisan belum mencapai tulisan.