Sejarah Runtuhnya Kerajaan Selaparang di Lombok

advertise here
Sejarah-Runtuhnya-Kerajaan-Selaparang-Lombok

Ruangsejarah.web.id -- Kerajaan-kerajaan kecil lainnya seperti Sokong, Bayan, Langko, Kedaro, Parwa, Sarwadadi, dan Pejanggik mengakui Selaparang sebagai induk atau kakaknya.

Hubungan di antara mereka penuh dengan persaudaraan, hidup rukun dan damai, tak ada gesekan sehingga mereka tidak membutuhkan tentara reguler yang dipersenjatai. Apabila situasi membutuhkan pertahanan, maka rakyat siap bangkit membela negara.

Pejabat yang mengurusi masalah pertahanan dan keamanan disebut Dipati. Dengan demikian, persekutuan hukum masyarakat yang tertinggi di Lombok telah ada sejak tahun 1543 M.

Sebagai kerajaan yang kuat, Selaparang juga melakukan hubungan dengan kerajaan-kerajaan lain di luar pulau Lombok seperti dengan beberapa kerajaan di Kalimantan.

Dalam Hikayat Banjarmasin disebutkan bahwa seorang bangsawan Banjar bernama Raden Subangsa pergi ke Selaparang mengawini seorang putri raja.

Dari perkawinan tersebut lahir Raden Mataram. Setelah istrinya meninggal, Raden Subangsa kawin lagi dengan Putri Selaparang di Sumbawa dan melahirkan Raden Banten. Selanjutnya tahun 1618 M kerajaan Goa menaklukkan kerajaan-kerajaan di Sumbawa Barat yang kemudian dipersatukan dengan kerajaan Selaparang.

Sejak keberhasilan Goa merebut Lombok dari Bali pada tahun 1640 M, maka proses Islamisasi pun berjalan semakin mantap. Dalam usaha mengembangkan pengaruhnya di Lombok, masing-masing kerajaan meningkatkan hubungan melalui perkawinan antara kedua belah pihak (kerajaan Selaparang dan kerajaan Gowa).

Hal ini dapat diketahui dari nama-nama gelar seperti Pemban Selaparang, Pemban Pejanggik, Pemban Parwa. Sedangkan kerajaan kecil lainnya yang bersifat otonom, rajanya disebut Datu seperti Datu Bayan, Langko, Sokong, Kuripan, Pujut dan lain-lainnya.

Tekanan dan Ancaman dari Kerajaan GelGel dan Karangasam

Setelah masuknya agama Islam, kerajaan Selaparang mengalami kemajuan yang cukup pesat. Hal ini rupanya menjadi hambatan bagi ekspansi sosial-ekonomi kerajaan Gelgel di Bali.

Pada tahun 1520 M, Gelgel mencoba melakukan penyerangan tetapi tidak berhasil. Kemudian pada tahun 1530 M, Gelgel melakukan usaha secara damai dengan mengirimkan utusan yang dipimpin oleh Danhyiang Nirartha sambil memasukkan paham baru berupa sinkretisme Hindu-Islam.

Walaupun tidak begitu lama mengajarkan sinkretisme ini, ajarannya telah dapat mempengaruhi beberapa pemimpin di Lombok yang belum lama masuk Islam.

Keberhasilan Selaparang menghambat laju masuknya kerajaan Gelgel salah satunya juga karena mendapatkan perlindungan dari kerajaan Gowa di Makassar.

Ditandatanganinya Perjanjian Bongaya di Klungkung Bali tahun 1667 M menyebabkan pulau Lombok dan Sumbawa dinyatakan lepas dari pengaruh Goa dan Tallo. Maka kerajaan¬kerajaan di Bali pun kembali mencurahkan perhatiannya ke pulau Lombok dengan mengirim ekspedisi tahun 1667 M dan 1668 M. Tetapi kedua invasi tersebut dapat dipukul mundur oleh Selaparang dengan bantuan dari prajurit Sumbawa.

Kekalahan yang dialami oleh Gelgel tidak membuatnya berputus asa. Pada tahun 1690 M, Gelgel membuat pangkalan militer di Pagutan dan Pagesangan yang dikoordinasi oleh kerajaan Karangasem. Strateginya yaitu dengan mengirimkan utusan berupa pasukan pendahulu yang beragama Islam yang dipimpin oleh Patih Arya Sudarsana (beragama Islam).

Patih Arya Sudarsana berhasil menyusup ke Selaparang sehingga terjadi konflik antar kedua-belah pihak. Dalam peperangan tersebut, pasukan Arya Sudarsana berhasil didesak sampai Suradadi, tepatnya di daerah Reban Talat, tetapi Arya Sudarsana tidak berhasil ditangkap. Dalam peperangan inipun kerajaan Selaparang mendapatkan bantuan dari kerajaan Sumbawa dibawah pimpinan Amasa Samawa (1723-1725 M).

Sebagian Bekas prajurit Sumbawa itu kemudian menetap di Lombok dan menjadi cikal-bakal atau nenek moyang dari penduduk desa Rempung, Jantuk, Siren Rumbuk, Kembang Kerang Daya, Koang Berora, Moyot dan yang lainnya. Para penduduk tersebut sebagian besar berbahasa Taliwang hingga saat ini.

Akhir Cerita Kerajaan Selaparang

Kekalahan Gowa oleh Belanda memaksa Gowa menandatangani "Perjanjian Bongaya" pada tanggal 18 November 1667 M. Sejurus kemudian VOC mengusir kekuasaan Goa dari Lombok dan Sumbawa. Pada tahun 1673 M Belanda memindahkan pusat kerajaan dari pulau Lombok ke Sumbawa untuk memusatkan kekuatan.

Hal ini diketahui dari berita-berita tahun 1673 M dan 1680 M tentang pertanggungjawaban raja Sumbawa atas daerah Lombok. Kemudian pada tahun 1674 M, Sumbawa mendandatangani perjanjian dengan VOC yang isinya bahwa Sumbawa harus melepaskan Selaparang.

Setelah Selaparang lepas dari kekuasaan Sumbawa, maka VOC menempatkan regent dan pengawas. Ketidaksetujuan Selaparang terhadap VOC yang menempatkan regent dan pengawas ini telah menyebabkan terjadinya pemberontakan Selaparang pada tanggal 16 Maret 1675 M. Untuk memadamkan pemberontakan tersebut, VOC di bawah Kapten Holsteiner menangkapi para pemimpin Selaparang. Mereka masing-masing adalah:

Raden Abdi Wirasentana, Raden Kawisangir Koesing, dan Arya Boesing. Mereka dihukum denda dengan membayar 5.000 sampai 15.000 batang kayu sepang dalam jangka waktu 3 tahun.

Sejak kedatangan VOC ke Lombok hingga tahun 1691 M, akhirnya kerajaan Selaparang mengalami kemunduran. Karangasem Bali bersama Arya Banjar Getas berperang melawan raja-raja di Lombok. Pada tahun 1740 M terjadi peperangan di Tanaq Beaq yang dimenangkan oleh pihak Karangasem. Sejak saat itu maka tamatlah riwayat kerajaan Selaparang.