Merari, Tradisi Pernikahan Unik Ala Masyarakat Sasak di Lombok

advertise here
Sejarah-Tradisi-merari-lombok-Lombok

Sejarah.web.id – ada banyak hal unik yang bisa kita dapatkan di Pulau Lombok ini. Terkenal dengan pariwisata yang menawan seperti Pantai Senggigi, Gili Trawangan, Gili Air, tracking Gunung Rinjaniternyata ada tradi yang unik di kalngan masyarakat Sasak Lombok.

Bagaimana sih sejarah singkatnya Merari?

Tradisi Merari, inilah istilah sistem pernikahan yang menjadi tradisi hingga saat ini di Pulau Lombok. Setidaknya ada dua pandangan yang mengemuka tentang sejarah tradisi Merari’, yaitu: Pertama, kawin lari (Merari’) dianggap sebagai budaya produk lokal dan merupakan adat asli (genuine) dari leluhur masyarakat Sasak yang sudah dipraktikkan oleh masyarakat sebelum datangnya kolonial Bali maupun kolonial Belanda.

Hal ini dikuatkan juga oleh H. L. Hasbulloh yang mengatakan bahwa Merari’ itu adalah asli adat Sasak dan merupakan warisan dari para leluhur suku Sasak.Nieuwenhuyzen juga mendukung pandangan ini.

Menurutnya,banyak adat Sasak yang memiliki persamaan dengan adat suku Bali, tetapi kebiasaan atau adat, khususnya perkawinan Sasak, adalah adat Sasak yang sebenarnya.Kedua, kawin lari (Merari’) dianggap sebagai budayaproduk impor dan bukan asli dari leluhur masyarakat Sasak serta tidak dipraktikkan masyarakat sebelum datangnya kolonial Bali.

Pendapat ini didukung oleh sebagian masyarakat Sasak dan dipelopori oleh tokoh agama. Pada tahun 1955 di Bengkel Lombok Barat. TGH. Saleh Hambali menghapus kawin lari (Merari’), karena dianggap sebagai manifestasi Hinduisme Bali dan tidak sesuai dengan Islam.

Bagaimana mungkin tradisi Merari’ ini bisa dikatakan produk impor dari Bali, sementara beberapa kampung di Lombok seperti perkampungan Sekarbela yang tidak pernah disentuh ataupun dijajah oleh Anak Agung (kolonial Bali) juga memraktikkan budaya Merari’, bahkan menjadikannya sebuah adat yang sudah dijalankan oleh para leluhur mereka. Ini adalah bukti nyata bahwa Merari’ merupakan adat asli suku Sasak di pulau Lombok.

Merari’ sebagai sebuah tradisi yang biasa berlaku pada suku Sasak di Lombok ini memiliki logika tersendiri yang unik.

Bagi masyarkat Sasak, merari’ berarti mempertahankan harga diri dan menggambarkan sikap kejantanan seorang pria Sasak, karena ia berhasil mengambil [melarikan] seorang gadis pujaan hatinya.

Sementara pada isi lain, bagi orang tua gadis yang dilarikan juga cenderung enggan, kalau tidak dikatakan gengsi, untuk memberikan anaknya begitu saja jika diminta secara biasa [konvensional], karena mereka beranggapan bahwa anak gadisnya adalah sesuatu yang berharga, jika diminta secara biasa, maka dianggap seperti meminta barang yang tidak berharga.

Ada ungkapan yang biasa diucapkan dalam bahasa Sasak: Ara’m ngendeng anak manok baen [seperti meminta anak ayam saja].  Jadi dalam konteks ini, merari’ dipahami sebagai sebuah cara untuk melakukan prosesi pernikahan, di samping cara untuk keluar dari konflik.