Ketika Aksi Perang Mataram-Pagutan Berkobar, ini ulasan Sejarahnya

advertise here

Sejarah-perang-Mataram-pagutan

Ruangsejarah.web.id -- Salah seorang putra raja Mataram yang sudah dewasa dilamarkan seorang putri bernama Ayu Bulan dari Pagutan. Akan tetapi lamaran tersebut ditolak oleh pihak Pagutan. Keberanian Pagutan menolak lamaran tersebut karena dijanjikan bantuan oleh Kuripan. 

Apabila terjadi peperangan melawan Mataram, pihak kuripan bersedia membantu Pagutan. Kerajaan Mataram merasa dilecehkan oleh peristiwa tersebut, akhirnya peperangan pun tak dapat dihindari. Pada tahun 1839 M, Raja Pagutan, Gusti Ketut Putra dengan beberapa orang keluarganya tewas. Hingga perang usai, bantuan dari Raja Kuripan Dene' Laki Batu tidak kunjung datang.

Peristiwa peperangan tersebut sangat disesalkan oleh Mataram. Semua itu terjadi karena ulah Kuripan. Akhirnya Mataram mencabut hak otonomi yang diberikan kepada seluruh desa-desa termasuk Kuripan, Praya, Kopang, Mantang, Rarang dan lain-lainnya. 

Mataram beranggapan bahwa pemberian otonomi itu pada akhirnya akan menimbulkan malapetaka bagi pemerintahan Mataram. Mataram menjadi sangat hati-hati karena ia menyadari betul apabila kekuatan Sasak bersatu di bawah kekuatan Islam maka bisa menimbulkan malapetaka bagi Mataram. Kemudian Mataram melakukan upaya adu-domba.

# Peperangan Kuripan

Siasat tersebut kemudian mulai dijalankan. Satu persatu kerajaan Sasak ditaklukan. Pertama diawali dari Kuripan. Kuripan diundang oleh Mataram akan tetapi Dene' Laki Batu dan Dene' Batu Galiran membawa para patih dan punggawa. 

Dalam pertemuan tersebut pihak Mataram menyerahkan wilayah sebelah timur sungai Belimbing menjadi bagian dari kekuasaan Kuripan, sedangkan wilayah sebelah barat sungai itu akan dikurangi. Kuripan minta waktu untuk berpikir. Setelah pulang mereka sepakat untuk menolak permintaan tersebut. Pada undangan yang kedua Dene' Laki Batu dan Dene' Laki Galiran dapat dibunuh pada tahun 1840 M. 

Wilayah Kuripan diperintah langsung oleh kedua putri Dene' Laki Batu, masing-masing Dende Rada dan Dende Sumekar yang selanjutnya dibawa ke Mataram, sedangkan anak laki-laki Dene' Laki Batu menghilang.

#  Perang Praya I

Penaklukan selanjutnya diarahkan ke Praya yang dipimpin oleh Raden Wiracandra. Berkali-kali Raden Wiracandra ke Mataram, tetapi setiap kedatangannya selalu membawa pengiring yang sangat banyak dan bersenjata lengkap. 

Praya sudah menyadari bahwa malapetaka bagi dirinya hanya menunggu giliran saja. Praya sudah tidak tahan lagi memelihara persahabatan dengan Mataram.

Beberapa hal yang menjadi sebab perang Praya I ini antara lain:

# Kerajaan Mataram merobek-merobek (melanggar) perjanjian antaraArya Banjar Getas dengan I Gusti Ketut Karangasem.

# Daerah kekuasaan Banjar Getas sejak lama telah digerogoti sedikit demi sedikit dengan mendirikan desa-desa otonom dibawah perintah langsung dari Mataram.

# Dalam usahanya untuk menguasai seluruh Lombok, Kerajaan Mataram selalu menjalankan politik adu domba antara para pemimpin Sasak. d. Raden Wiracandra difitnah akan menyerang Mataram.

Usaha terakhir Mataram untuk menaklukkan Praya secara halus, adalah dengan melamar putri Raden Wiracandra yang ditolak oleh Praya. 

Maka untuk menyerang Praya, raja Mataram menghasut desa-desa tetangganya untuk memusuhi Praya.

Akibat hasutan Mataram itu, seolah -olah Kopang dan Batukliang itu menjadi musuh utama bagi Praya, maka Praya menyerang Batukliang dan Kopang. Kedua desa itu mendapat bantuan dari Mataram di bawah pimpinan Ratu Gde Wanasara yang didampingi oleh I Made Rai dan Gusti Made Kaler. Untuk menghindari korban yang lebih banyak, terutama anak-anak dan wanita, maka raja Mataram memerintahkan supaya Praya ditunggu di perbatasan Praya dan Batukliang. 

Wilayah Praya dikepung oleh pasukan Batukliang, Kopang dan Mataram serta diperkuat pasukan dari Batujai, Suradadi, Penujak, Jonggat Puyung, Rarang, dan Sakra.

Hampir setengah tahun lamanya terjadi perang tiada berkesudahan, sehingga menimbulkan bencana kelaparan. Beberapa orang pasukan yang keluar untuk mencari makanan dibunuh oleh para musuh. Hal itu menyebabkan Raden Wiracandra dan pembantunya gelisah.

Mereka bertekad untuk perang fisabilillah. Pada peperangan tersebut, Raden Wiracandra tewas. Pasukan rakyat yang fanatik, dibawah pimpinan Haji Umar menjalani perang fisabilillah. 

Semuanya gugur di medan perang. Raden Tunggul, putra dari Raden Wiracandra dapat meloloskan diri dan pergi ke Bugis. Para putri-putri Raden Wiracandra dan tawanan yang lain dan sebagian lagi dibuang ke Bali dan Tanjung (Lombok Utara), beberapa dari mereka ada pula yang dibunuh. Sejak itu Praya berada di bawah kekuasaan Anak Agung Gde Ngurah, raja Karangasem. 

Sedangkan di Praya diangkat seorang pimpinan dari keturunan Banjar Getas bernama Mamiq Sapian.

Hancurnya kerajaan Praya menambah martabat Kopang dan Batukliang. Hal ini tidak menyenangkan raja Mataram. Politik pecah-belah terus dijalankan. Beberapa tahun setelah perang Praya pertama, Jero Wirasari pimpinan Kopang, dipanggil ke Mataram.

Ketika Jero Wirasari berangkat bersama para pengiringnya, ia didakwa dan difitnah akan memberontak ke Mataram. Raja memerintahkannya untuk ke Pemenang (Lombok Utara) dan tanpa disadari kemudian dikeroyok dan dibunuh oleh pasukan Mataram di bawah pimpinan Gusti Ketut Ning. Jenazahnya dimakamkan oleh para pengiringnya di Pemenang. Sejak saat itu Kopang mengalami kemunduran.

Rencana Raja Mataram untuk menguasai desa demi desa semakin menjadi jadi, sehingga ia tidak lagi membedakan kawan atau lawan, yang penting tujuannya tercapai dengan mudah dan cepat. Satu-persatu sekutunya dihancurkan. Hal ini sangat menggelisahkan para pemimpin Sasak. Mereka tidak dapat bersatu akibat politik Mataram yang sangat cerdik.

Lima bulan setelah Kopang, tiba giliran Batukliang menuai masalah. Raden Sumintang diminta datang ke Mataram. Para bangsawan dan pembantunnya melarang beliau datang ke Mataram untuk memenuhi surat panggilan dari Anak Agung Mataram itu. 

Setelah tiga kali surat diterima dan tidak dihiraukan juga; maka Mataram mengirim pasukan di bawah pimpinan Gusti Made Sangka untuk menangkap Raden Sumintang dalam keadaan hidup atau mati. Agar Batukliang tidak bernasib seperti Praya, Raden Sumintang menyerahkan diri di Aik Gering kepada pasukan yang akan menangkapnya. Disitulah beliau dibunuh oleh Gusti Made Sangka.

Melihat Radennya dibunuh, para pengiringnya bernama Tati' Engkis tidak dapat menahan diri lalu mengamuk. Tetapi baru dapat menewaskan seorang musuh, ia pun tewas. Jenazah Raden Sumintang dimakamkan di Batukliang.

Perang Kalijaga

Sebelum dilantik menjadi raja, AnakAgung Gde Ngurah Karangasem berfikir bagaimana cara agar dua golongan yang berbeda agama bisa berdamai. Atas petunjuk gaib dalam pertapaan di Batu Bolong, ia bermimpi saat itu kejatuhan bulan di Kalijaga. Anak Agung Gede Ngurah Karangasem bersama Gusti Gde Wanasara kemudian melamar Dende Aminah dari Desa Kalijaga Lombok Timur. Dende Aminah dipercaya sebagai pemegang Wahyu Kedaton Selaparang.

Dende Aminah merupakan putri dari Dea Guru, seorang pemuka Islam yang terkenal shaleh. Baliau adalah saudara dari Dea Meraja, pemimpin desa Kalijaga. Dea Guru dan Dea Meraja menolak lamaran itu karena sudah dijanjikan bantuan oleh Raja Amir dari Desa Mamben dan Raden Kardiyu dari Korleko bila nantinya diserang oleh Mataram.

Anak Agung Gde Ngurah berkirim surat kepada Dea Guru dan Dea Mraja untuk datang ke Mataram, tetapi undangan itu ditolak, karena datang ke Mataram berarti mati. 

Penolakan surat tersebut sangat menyakitkan hati raja. Maka siasat lamapun dijalankan, "Pecah dan Kuasai".

Atas berbagai pertimbangan, akhirnya surat pemanggilan tersebut dipenuhi. Maka diutuslah Raden Kardiyu dim Raden Amir ke Mataram. Sesampainya di Mataram, mereka diterima oleh Patih Gusti Wanasara. Meskipun tanpa bukti, mereka dituduh memberontak. 

Kemudian mereka diikat dan dibawa ke Sema (Kuburan Bali) untuk menjalani hukuman mati. Ternyata mereka tidak mempan senjata. Gusti Wanara melaporkan kejadian yang sangat aneh ini kepada Raja. Rajapun mengampuni keduanya dengan syarat agar supaya mereka berdua bersedia menangkap Dea Raja dan Dea Guru dalam keadaan hidup atau mati.

Demikianlah, Mamben dan Korleko pun menyerang Kalijaga. Namun serangan itu dapat ditahan oleh Kalijaga. Raden Amir dan Raden Kardiyu tersadar, bahwa mereka harus berpihak kepada Kalijaga. Akhirnya mereka pun berbalik melawan Mataram. Mereka berencana menyerang kedudukan Mataram di Pringgasela dengan beberapa strategi:

# Dari Barat Daya dipimpin oleh Dea Mraja dibantu oleh Raden Kardiyu, Mamiq Lisah, Mamiq Putra, Pun Kebian dan Raden Nuna Darmasih.

# Dari Arah Timur dipimpin oleh Dea Guru dibantu ol,eh Raden Amir, Pe Sumping, Mamiq-Dalu, Papuq Lokah, Amaq Kedian, Mamiq Mesir, dan Pe Rumah.

Ketika peperangan berlangsung, RadenAmir dan Raden Kardiyu ingat janjinya sehingga berbalik melawan Kalijaga. Raden Amir, Raden Kardiyu, Pe Sriyaman yang membela Mataram memukul mundur pasukan. Kalijaga untuk kemudian membakar Kalijaga. 

Dea Meraja dan puterinya Raden Muna Darmasih melarikan diri naik perahu ke Bima, sedangkan Dea Guru bersama putrinya, Dende Aminah dan beberapa orang pengiringnya bersembunyi di dalam sebuah goa di hutan Bungus Bawi, namun musuh dapat menemukannya, sehingga mereka dapat dibunuh.