Sultan Iskandar Muda, Menjadikan Kerajaan Aceh Menjadi yang Terkuat di Nusantara

advertise here

Sultan-Iskandar-Muda-dari-Kerajaan-Aceh

Sultan pertama kerajaan Aceh adalah Ali Mughayat Syah ( 1514 –1530 ). Selama masa pemerintahannya, sebagian besar komunitas dagang Asia yang bubar karena pendudukan Malaka oleh Portugis, singgah dan menetap di Aceh. 

Pada tahun 1520, Aceh mulai memperluas pengaruhnya dengan menyerang daerah Daya, Pantai Timur , Deli, Pedir, Pasai, Aru dan Johor.

Tujuan penyerangan Aceh untuk menaklukkan sejumlah daerah adalah  :

# Memperluas hegemoni kerajaan Aceh.
# Menyebarkan agam Islam ke daerah-daerah yang belum menganut agama Islam.
# Menguasai daerah-daerah penghasil lada dan emas.
# Membangun pelabuhan produsen yang ingin menyelenggarakan perdagangan bebas.

Persaingan mengganti posisi Malaka sebagai pelabuhan transit di Nusantara bagian barat.
Sebagai negara yang paling kuat di kawasan selat Malaka.

Penguasa Aceh berikut yang tergolong mencapai kejayaan adalah masa Sultan Alaudin Riayat Syah al Kahar ( 1537 – 1571 ).  Dia berhasil menaklukkan Batak di sebelah selatan Aceh pada tahun 1539. Walaupun penyerangan berikut terhadap Aru yang dikuasai Johor dan terhadap Malaka yang diduduki Portugis mengalami kegagalan, Sultan Alaudin telah menunjukkan ketangguhan sebagai kekuatan militer yang disegani dan diperhitungkan di kawasan selat Malaka.

Pada awal abad ke-17, penguasa terbesar di antara penguasa-penguasa Aceh adalah masa Sultan Iskandar Muda ( 1607 – 1636 ). Aceh benar-benar menjadi kerajaan yang paling kuat di Nusantara bagian barat. Pada tahun 1612, akhirnya Deli, Aru dan Johor berhasil ditaklukkan. 

Pada tahun 1614, armada Portugis di Bintan berhasil dikalahkan. Pada tahun 1624, Pahang dan Nias  berhasil dikuasai. Pada tahun 1529 , Aceh menggempur Portugis di Malaka dengan sejumlah kapal yang memuat 19.000 prajurit. Pertempuran sengit tak terelakkan yang kemudian berakhir dengan kekalahan di pihak Aceh.

Alasan politik yang menyebabkan Aceh mengalami kemunduran adalah  :

# Kalangan elit Aceh atau kelompok bangsawan yang terdiri atas para ‘Panglima Perang’ ( hulubalang, ule balang )kurang mendukung cita-cita Sultan.

# Adanya perpecahan di dalam negeri, dimana para ulee balang menjadi penguasa-penguasa local ( feodal ).