Apa yang Dilakukan TGH. Muhammad Ali Batu Ketika Berada di Mesir?

advertise here
TGH-Muhammad-Ali-Batu-Berada-di-Mesir

Ruangsejarah.web.id – Sesosok Ulama yang berasal dari Lombok bernama TGH. Muhammad Ali Batu, kala melakukan perjalanan panjang menuju ke Mekkah hingga suatu hari dalam perjalanan sampai san singgah di Mesir.

Di luar dugaan TGH. Muhammad Ali Batu, ternyata masyarakat Mesir sangat ramah menyambut kedatangan beliau di sana. Saat itu masyarakat Mesir langsung mengarahkan TGH. Muhammad Ali Batu untuk menuju ke Istana Raja Sulthon. Sang Raja tertarik untuk memiliki barang yang dibawa oleh TGH. Muhammad Ali Batu yaitu berupa kulit binatang, lalu sang Sulthon membelinya dengan empat kantung uang.

Kala berada di Mesir beliau diperlakukan sangat baik dan menginap dirumah saorang Penghulu Agama. Lalu, sang penghulu bercerita bahwa tiap tiga tahun sekali desa tersebut dikunjungi oleh syech dengan wujud yang berbeda-benda itulah sebabnya masyarakat di desa tersebut menyambut kedatangan beliau dengan sangat baik.

Selanjutnya, sang Penghulu desa juga menambahkan saat ini sang Syekh yang dimaksudkan tersebut kini sedang melakukan suluk di Jabalil Asir (gunung Asir) yang terletak di negeri Yaman.

Setelah mendengar cerita itu, Muhammad Ali mohon agar diantarkan ke tempat tersebut. Penghulu itu menjawab bahwa ia tidak berani pergi ke tempat dimana Syekh berkhalwat. Kemudian Muhammad Ali berkata:

”Bila anda tidak berani (sanggup) ke tempat itu,maka cukuplah anda tunjukan dimana arah menuju tempat itu.” Oleh penghulu itu permintaan beliau dikabulkan.

Kemudian meraka pun melakukan perjalanan ke tempat tujuan. Ketika mereka telah dekat, penghulu itu kemudian menunjukan tempat yang oleh Muhammad Ali merupakan tempat yang tidak asing lagi baginya disebabkan beliau beberapakali melihatnya di dalam mimpi.

Dan sebagai tanda terima kasihnya atas pertolongan penghulu yang telah menunjukan tempat itu, beliau menghadiahkan kepadanya seluruh uang (yang empat kantung) tanpa tersisa sedikitpun.

Ini merupakan I’tibar (contoh) bahwa ilmu hakikat adalah ilmu yang tidak ternilai dan juga tidak bisa ditukar atau dibandingkan dengan harta berapa pun banyaknya walau hanya sekedar ditunjukkan tempat menututnya saja, apa lagi sampai dapat menerimanya.

I’brah ini hendak menjadi renungan bagi setiap jama’ah untuk terus bersyukur kepada Allah SWT.karena tidak semua orang mampu berfikir akan tingginya ilmu ini dan juga tidak semua orang sanggup menghargainya sebagaimana Muhammad Ali telah menghargainya.

Singkat cerita TGH. Muhammad Ali Batu berada di tempat yang selalu hadir didalam mimpinya, beliau pun melakukan komunikasi dengan syech dan menceritakan apa maksud kedatangan beliau.