Waduk Nipah 1993: Tragedi Sejarah Bersimpah Darah di Sampang, Madura

advertise here
tragedi-Waduk-nipah-di-Sampang-Madura

Ruangsejarah.web.id – Pengairan Irigasi persawahan masyarakat sampang nampaknya lebih baik dari sebelum-sebelumnya, perbaikan demi perbaikan dilakukan untuk menormalisasi keberadaan waduk nipah ini.

Pada hari Sabtu, bertepatan dengan tangga 19 Maret 2016 Presiden Republik Indonesia meresmikan Waduk Nipah ini. Kegembiraan nampak di mata Msyarakat Sampang, Madura. Riuhan tepuk tangan, sorak-sorai, dan gegap gempita dalam peresmian Bendungan Waduk Nipah ini. Sekitar 1.150 hektar lahan pertanian yang kerontang akan segar-bugar karena mendapat kucuran air 'sakti' dari waduk itu.
Mengingat sejarah hitam Waduk Nipah

Keriuhan, kegembiraan di peresmian Waduk Nipah ini ternyata pernah menyimpan sisi gelap tragedi berdarah. Tragedi ini terjadi kala Pemerintah berencana untuk membangun sebuah bendungan di Waduk Nipah ini.

Tragedi berdarah tersebut pecah 23 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 25 September 1993. Konflik bermula dari permasalahan tanah milik masyarakat Nipah yang akan dijadikan waduk oleh pemerintah Orde Baru Soeharto.

Apa yang menyebabkan tragedi Waduk Nipah ini?

tragedi-Waduk-nipah-di-Sampang-Madura

Nah, kala pemerintah akan melakukan pembebasan lahan Waduk Nipah yang akan digunakan sebagai lokasi Bendungan, ada terjadi mis-komunikasi antara pemerintah dan pemilik lahan.

Masyarakat menganggap bahwa proses pembebasan tanah berjalan satu arah. Pemerintah seakan-akan berjalan satu arah tanpa ada musyawarah dan mufakat dari masyarakat setempat.

Para masyarakat pemilik lahan tidak terlibat, sehingga mereka enggan mengucap kata mufakat.
Zaman Orde Baru mungkin menjadi zaman yang paling apes bagi pembangkang atau orang yang melawan kehendak pemerintah akan suatu hal. Dan hal ini terjadi dengan masyarakat Sampang, lokasi Waduk Nipah. Mereka dianggap melakukan perlawanan oleh pemerintah.

Pada hari Sabtu, 25 September 1993, kala panas mencengkeram alam sekitar waduk nipah terdapat petugas bersama dengan aparat yang melakukan pengamanan terhadap petugas yang sedang melakukan pengukuran lahan yang akan dijadikan sebagai Bendungan Waduk Nipah ini.

Kalangan Polisi dan Tentara disiapkan dengan posisi bersenjata lengkap melakukan pengawalan terhadap petugas pengukuran tanah. Disaat itu juga terdapat segerombolan warga yang sedang melakukan unjuk rasa protes sebagai aksi penolakan terhadap pengukuran tanah tersebut.

Maysarakat menuntut agar petugas yang melakukan pengukuran tanah agar dapat dihentikan karena mereka menganggap keputusan belum deal dan sesuai dengan keinginan merekan.

Respon apa yang mereka dapatkan? Bukan jawaban atas perkara namun hujan peluru yang aparat berikan dalam merespon aksi unjuk rasa kepada petugas tersebut. Jerit tangis menggaum, darah mulai bertebaran di tanah bumi pertiwi, warga yang menuntut keadilan dibalas dengan luka-luka akibat hujanan peluru tersebut. Parahnya, empat orang meregang nyawa dalam aksi tersebut. Perlawanan masyarakat yang dihujani peluru tajam berlari entah kemana untuk menghidari peluru-peluru senjata aparat.

Respon Masyarakat setelah Tragedi?

Aksi aparat menyebar luas, para kyai, masyarakat umum, serta kalangan Mahasiswa mulai memberikan aksi protes terhadap tragedi berdarah tersebut. Simbol perlawanan terhadapa rezim orde baru mulai terbangun.

Para intelektual muda mulai melakukan advokasi serta turun ke jalan menuntut pertangungjawaban atas tragedi yang merenggut nyawa masyarakat sampang tersebut.

Bagi mereka, kasus Nipah ialah salah satu dari deret panjang daftar kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh negara terhadap rakyatnya. Deretan lainnya, ada kasus Kedung Ombo, Jatiwangi, Blangguan, Rancamaya, Badega, Cimacan, hingga kasus pembunuhan aktivis buruh bernama Marsinah. Berawal dari kasus Nipah itu pula, terjadi pada 14 Desember 1993, sekitar 200 mahasiswa se-Jawa Bali yang tergabung dalam FAMI (Front Aksi Mahasiswa Indonesia) berdemonstrasi di gedung DPR/MPR RI.

Dari tragedi Waduk Nipah hingga Marsinah

tragedi-Waduk-nipah-di-Sampang-Madura

Demontrasi FAMI atau Front Aksi Mahasiswa Indonesia sangat terbilang cukup berani menghadapi rezim tersebut. Betapa tidak, mereka mendesak MPR sebagai lembaga tertinggi negara meminta pertanggungjawaban presiden selaku mandataris MPR dan kepala pemerintahan.

Itu berkaitan dengan banyaknya terjadi persoalan kerakyatan yang tidak dapat diselesaikan. Dari Nipah hingga Marsinah. Di depan gedung DPR/MPR, FAMI membeber spanduk besar bertuliskan 'Seret Presiden ke Sidang Istimewa MPR RI'.

Tentu saja, unjuk rasa kelompok mahasiswa ini membikin merah telinga penguasa. Karena saat itu Suharto sebagai penguasa Orde Baru sedang kuat-kuatnya. Demonstrasi FAMI dibubarkan aparat, 21 mahasiswa ditangkap. Mereka dijerat pasal penghinaan kepala negara dan dijatuhi hukuman bervariasi, ada yang 8 bulan penjara, ada yang 10 bulan penjara, bahkan terberat vonis 16 bulan penjara.

Nah, sejak tragedi tersebutlah pembangunan Bendungan Waduk Nipah sempat terhenti. Namun, tahun 2008 dimulai lagi. Proses pengerjaan pun dilanjutkan.

Dengan lokasi dan Lahan seluas 527 hektar disulap menjadi kolam raksasa yang sangat bermanfaat bagi pengairan pertanian Masyarakat setempat. Lahan itu berada di tiga desa di Kecamatan Banyuates.

Masing-masing Desa Montor, Nagasareh, dan Tebanah. Selain itu juga mencakup lahan di Desa Banyusokah, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Sampang.