Arie Frederik Lasut, Sosok ahli pertambangan dan geologis yang bergelar Pahlawan Nasional

advertise here
Arie-Frederik-Lasut-Sosok-pahlawan-nasional-ahli-pertambangan-dan-geologis

Ruangsejarah.web.id -- Arie Frederik Lasut pernah tercatat duduk di posisi pimpinan dinas Pertambangan Republik Indonesia. Kedudukannya sebagai Kepala Dinas Pertambangan RI membuatnya banyak mengetahui informasi tentang kekayaan bumi Indonesia. Karena pengetahuannya itu, Belanda sangat mengincar dirinya. Ia dibujuk pemerintah kolonial Belanda untuk melakukan kerjasama dengan imbalan gaji tinggi dan beragam fasilitas.

Akan tetapi, kesetiaannya pada negara tidak goyah. Tawaran Belanda itu ditolaknya mentah-mentah. Tentara Belanda marah lalu menculiknya dan menembaknya secara keji di lereng selatan Gunung Merapi Yogyakarta.

Arie Frederik Lasut dilahirkan di Kapataran, Lembean Timur, Minahasapada tanggal 6 Juli 1918 yang kemudian wafat di daerah Pakem, Sleman, Yogyakarta pada tanggal 7 Mei 1949. Arie Frederik Lasut kemudia mendapat sebuah gelar Pahlawan Nasional oleh presiden RI yang berdasarkan pada ketetapan Keppres No. 12/TK/1969 dengan tanggal penetapan pada 20 Mei 1969.

Arie Frederik Lasut merupakan ahli pertambangan dan geologis. Ia terlibat dalam perang kemerdekaan Indonesia dan pengembangan sumber daya pertambangan dan geologis pada saat-saat permulaan Republik Indonesia. Lasut merupakan putera tertua dari Darius  Lasut dan Ingkan Supit.
Ia mulai sekolah di Hollands Inlandsche School [HIS] di Tondano.

Kemudian mendapat kesempatan untuk sekolah guru di Hollands Inlandsche Kweekschool [HIK] di Ambon karena keberhasilannya menjadi juara kelas. Pada 1933, Lasut lulus dan segera ke Batavia mengikuti pelajaran di Algemene Middelbare School [AMS].

Tahun 1937 Lasut lulus AMS dan memulai sekolah kedokteran di Geneeskundige Hooge School. Ia berhenti karena kendala dana dan memutuskan bekerja di Departement van Ekonomische Zaken [Departemen Urusan Ekonomi] pada 1938.

Setahun berikutnya, Lasut masuk Techniche Hoogeschool te Bandung [THS], tetapi lagi-lagi studinya harus terhenti karena kesulitan dana. Ia lalu mendapat beasiswa dari Dienst van den Mijnbouw [Jawatan Pertambangan] untuk menjadi asisten geolog. Ia menyelesaikan kursus dan mulai kariernya sebagai geologiawan pada 12 Februari 1940.

Saat itu adalah saat bermulanya Perang Dunia II dan serangan-serangan pasukan Jepang yang akhirnya menuju ke Indonesia pada tahun 1942.

Di masa pendudukan pemerintah Jepang, ia kemudian diangkat menjadi asisten pada Chrisitsu Chosayo [Jawatan Geologi] yang berkedudukan di Bandung. Pengalaman yang ia dapatkan sewaktu bekerja di lembaga tersebut memberikan manfaat bagi negara ketika proklamasi kemerdekaan berkumandang.

Berbekal pengalamannya itu, ia terpilih menduduki posisi Kepala Jawatan Tambang dan Geologi. Lembaga yang dikepalainya waktu itu harus dipindahkan ke Tasikmalaya, kemudian Magelang, hingga ke Yogyakarta karena terjadi agresi militer Belanda pertama.

Di Magelang dan Yogyakarta, ia mendirikan beberapa sekolah, seperti Sekolah Pertambangan Rendah, Sekolah Laboran Geologi, dan Sekolah Pertambangan Geologi Menengah dan Tinggi.

Di samping menjabat sebagai Kepala Jawatan Tambang dan Geologi, ia aktif dalam pembentukan organisasi Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi Selatan (KRISS). Selain berkiprah di KRISS, ia diangkat menjadi Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang menjalankan fungsi legislatif Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.

Di hari-hari terakhirnya, A.F. Lasut masih menyibukkan diri dengan melakukan penyelidikan geologi di beberapa tempat. Ia masih menuliskan penelitiannya tentang geologi dan pertambangan dalam Berita Tahunan 1945-1947.

Sayangnya, ahli bumi ini meninggal muda karena keberingasan tentara Belanda. Lasut memiliki peran yang besar bagi perkembangan kemerdekaan Republik Indonesia juga bidang Geologi di Indonesia. Atas jasa-jasanya itu, pemerintah Indonesia, memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Arie Frederik Lasut.