Apakah Sultan Bone Arung Palakka seorang Pemberontak?

advertise here
apakah-arung-palakka-pemberontak

Ruangsejarah.web.id – Didalam penelusuran sejarah bangsa Indonesia terdapat salah satu nama dari beberapa kesultanan tangguh di kawasan Sulawesi, salah satunya yaitu Kesultanan Bone.

Memang Kesultanan Bone tidak terlalu banyak di kupas dalam penuturan sejarah Indonesia di bangku sekolah namu Kesultanan Bone merupakan kesultanan yang memiliki kekuatan yang ditakuti Belanda kala itu.

Sejarah Singkat Kesultanan Bone

Kesultanan Bone adalah salah satu kesultanan yang berdiri di kawasan Sulawesi, terletak di bagian barat daya atau tepatnya di daerah Provinsi Sulawesi Selatan sekarang ini. Kesultanan Bone ini Menguasai areal sekitar 2600 km2 yang menjadi daerah kekuasaannya.

Awal mula berdiri dan terbentuknya kerajaan atau kesultanan Bone ketika kedatangan Tomanurung ri Matajang MatasilompoE yang mempersatukan 7 komunitas yang dipimpin oleh Matoa.

Ketikan itu sang Manurung ri Matajang memutuskan untuk menikahi Manurung ri Toro yang kemudian mencetuskan La Ummasa Petta Panre Bessie sebagai Arumpone kedua.

Pada kisah selanjutnya saudara perempuannya menikah dengan La Pattikkeng Arung Palakka yang yang kemudian mencetuskan La Saliyu Karampelua sebagai Arumpone ketiga. Di masanya, kerajaan Bone semakin luas berkat keberaniannya dan keahlian-nya dalam memimpin kesultanan Bone. Strategi perang melawan musuh selalu beliau terapkan dengan cukup hati-hati dan harus berakhir dengan sebuah kemenangan.
apakah-arung-palakka-pemberontak
Arung Palakka adalah Pahlawan Bagi Masyarakat Bone
Kekuasan Bone terus melakukan perluasan wilaya kekuasaan kerajaan Bone ke kawasan bagian utara dimana pada bagian tersebut terdapat sebuah kerajaan yang bernama kerajaan Luwu yang berkedudukan di Cenrana, muara sungai WalennaE.

Nah, kala melakukan perluasan wilayah kekuasaan maka terjadi lah perang antara Arumpone La Tenrisukki melawan Datu Luwu Dewaraja yang kala itu dapat diselesai dengan kemenangan Kesultanan Bone dan Perjanjian Damai Polo MalelaE ri Unynyi.

Kala setetelah peperangan, kondisi dinamika politik militer diera tersebut yang selanjutnya diputuskan oleh penasehat kerajaan, Kajao Laliddong pada Arumpone La Tenrirawe BongkangngE untuk membangun koalisi dengan tetangganya yakni Wajo dan Soppeng. Koalisi tersebut dikenal dengan Perjanjian TellumpoccoE.

Kala itu, Ratu Bone, We Tenrituppu merupakan pemimpin Bone yang pertama kali masuk Islam. Namun Islam diterima secara sah dimasa Arumpone La Tenripale Matinroe ri Tallo Arumpone keduabelas.

Pada kepemimpinan sebelumnya yakni La Tenrirua memeang sudah menyambut dan menerima Islam dengan baik namun hal tersebut ditampik oleh hadat Bone yang mereka sebut dengan sebutan Ade Pitue yang hingga pada akhirnya dia hijrah ke Bantaeng dan meninggal disana.

Sejarah mengungkapkan bahwa ketika itu kala Islam diterima secara resmi oleh kesultanan, maka rangkaian dan tata cara hadat Bone yang menjadi pegangan mereka berubah. Ditambahkan jabatan Parewa Sara (Pejabat Syariat) yakni Petta KaliE (Qadhi). Namun, posisi Bissu kerajaan tetap dipertahankan.

Bone berada pada puncak kejayaannya sesudah Perang Makassar, 1667-1669. Bone menjadi kerajaan paling berpengaruh dijazirah unsur selatan Sulawesi.

Kala itu, saat perang Makassar mereka mengutuskan La Tenritatta Arung Palakka Sultan Saadudin sebagai penguasa tertinggi. Kemudian diwarisi oleh kemenakannya yakni La Patau Matanna Tikka dan Batari Toja.

Arung Palakka, Pahlawan atau Pemberontah?
apakah-arung-palakka-pemberontak
Arung Palakka VS Sultan Hasanuddin
Nah, hal ini masih sangat rancu dalam penelitian sejarah. Hal tersebut juga terjadi pada referensi-referensi resmi buku sejarah yang menyebutkan bahwa seorang arung palakka sebagai Penghianat dan pemberontak.

Hal tersebut merujuk kepada kala Arung Palakka meminta pertolongan Belanda kala ingin melawan Sultan Hasanuddin. Sebenarnya, ini adalah bagian dari siasat Arung Palakka agar mampu mengalahkan Sultan Hasanuddin dari Makassar.

Sudut pandang dan standar penilaian sejarah tersebut menempatkan Arung Palakka sebagai penghianat atas dasar taktik perang yang berkerjasama dengan Belanda.

Kerajaan-kerajaan di Nusantara ialah kerajaan yang merdeka dan berdaulat masing-masing. Maka Arung Palakka ialah pahlawan Kerajaan Bone.

Lalu apakah Arung Palakka pun seorang pahlawan kemanusiaan?

Nah, menarik nich! Sebuah kajian yang membutuhkan sebuah pembahasan panjang, oleh sebab kemanusiaan tersebut tidak mengenal perbedaan antara standar yang Latoa ataupun yang Lamuda.

Standar penilain yang dapat digunakan untuk menilai sebuah arti terdahap kebaikan kemanusiaan butuh standar yang tidak lekang oleh panas, tidak lapuk sebab hujan. Yaitu standar yang berlandaskan nilai mutlak, standar yang ditentukan oleh Allah SWT, laksana Firman Nya dalam S. Al Hajj 39 dan 40:

Udzina lilladziena yuqatiluwna biannahum dzhulimuw wa inna Llaha’ala nashrihim laqadier. Alladziena ukhrijuw min diyarihim bi qhayrihaqqin illa an yaquwluwna rabbuna Llah, 

Diperbolehkan berperang untuk mereka yang dizalimi dan bahwasannya Allah berkuasa memenangkan mereka. Yaitu mereka yang diusir dari tanah airnya dengan tidak semena-mena, melulu karena mereka berbicara Maha Pengatur kami ialah Allah.

La Maddaremmeng, Raja Bone ke-13, merealisasikan Syari’at Islam dengan murni dan konsekuen. La Maddaremmeng menggunakan prinsip Rabbuna Llah, Maha Pengaturku ialah hanya Allah SWT, menggunakan aturan menurut keterangan dari Firman Allah dalam kerajannya.
apakah-arung-palakka-pemberontak
Makam Arung Palakka
Sebenarnya La Maddaremmeng ini perlu diusung dalam sejarah, bahwa ia melampaui gerakan Paderi di Minangkabau. La Maddaremmeng ialah Pahlawan Islam. Ia membasmi adat kelaziman yang berlawanan dengan Syari’at Islam sebagaimana halnya berjudi, menyabung ayam, minum tuak.

Yaitu sejalan yang diajukan oleh Taunta Salamaka untuk Karaeng Pattingalloang. Kalau Tauanta Salamaka darurat meninggalkan Kerajaan Gowa, maka Lamaddaremmeng ribut dengan Kerajaan Gowa yang masih merawat tradisi yang berlawanan dengan Syari’at Islam itu.

Bone kalah perang, sebanyak rakyatnya ditawan, dikerahkan ke Gowa guna kerja paksa, dengan kata lain diusir dari tanah airnya dan dizalimi. Arung Palakka berperang untuk membasmi kezaliman ini. Sampai sekitar ini Arung Palakka masih mengisi kriteria pahlawan kemanusiaan tersebut menurut keterangan dari standar Al Quran:

Berperang melawan perlakuan terhadap rakyatnya yang zhulimuw, dizalimi,ukhrijuw min diyarihim, diusir dari tanah airnya guna kerja paksa.

Nabi bersabda: Qulilhaqqa meski kana murran, katakanlah kebenarantersebut walaupun pahit.

Arung Palakka memerangi Pariaman, wilayah asal Mara Rusli, penulis roman Sitti Nurbaya dan roman sejarah La Hami. Bukti sejarah bahwa Arung Palakka memerangi dan mengungguli Pariaman ialah payung atribut kerajaan tersebut masih ada kini tersimpan di Bone.

Salah seorang Kepala Kanwil Perhubungan Laut, almarhum Drs. Norman Razak pernah menuturkan, katanya: Wah, nenek moyang saya dipungut payung kebesarannya diangkut ke Bone sesudah Arung Palakka mengungguli Pariaman. Arung Palakka memiliki hak kemerdekaan memilih mitranya dari kerajaan manpun.

Namun dengan memerangi Pariaman sebagai persyaratanguna mendapatkan pertolongan dari akan mitranya, yakni Belanda, ia beraksi menzalimi sesama manusia, yang dalam urusan ini rakyat Pariaman. Daninilah cacat Arung Palakka untuk sebuah gelar pahlawan kemanusiaan. WaLlahu a’lamu bishshawab.