dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, Sang Penantang Kolonial Belanda

advertise here
dr-Tjipto-Mangoenkoesoemo-Sang-Penantang-Kolonial-Belanda

Ruangsejarah.web.id -- dr. Tjipto Mangoenkoesoemo merupakan seorang yang cerda dan rajin. dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dilahirkan di Ambarawa, Semarang pada tahun 1886 kemudian beliau wafat di Jakarta pada tanggal 8 Maret 1943.

Pemerintah Republik Indonesia memberi  gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional yang berdasarkan pada ketetapan Keppres No. 109 Tahun 1964 dengan tanggal penetapan pada  2 Mei 1964.

Karena kecerdasan yang dimilikinya, gurunya di Stovia menjulukinya “Een begaafd leerling”, seorang murid yang berbakat. Bakat itu pula yang mengantarnya jadi terkenal saat mampu meredam wabah pes  di Malang 1910.

Pemerintah memberinya tanda jasa Ridderkruis [lencana kehormatan Belanda]. Alih-alih bangga dan mengucap terima kasih pada pemerintah kolonial, ia justru mengembalikan lencana itu. Ia tidak sudi menerima penghargaan dari pemerintah Belanda yang menjajah pribumi Hindia seperti dirinya.
Tjipto Mangoenkoesoemo lahir di Pecangakan, dekat Ambarawa tahun 1886.

Setelah lulus sekolah ELS pada 1899, ia melanjutkan studi di STOVIA [Sekolah Dokter] di Batavia dan lulus pada 1905. Sejak itu, mulailah ia bertugas sebagai dokter pemerintah di Bajarmasin dan Demak. Waktu bertugas di Demak, ia banyak menulis karangan yang menceritakan penderitaan rakyat akibat penjajahan Belanda. Karangan-karangan itu dimuat dalam harian De Express. Akibatnya, ia diberhentikan dari jabatan dokter pemerintah.

Kegiatan politiknya makin meningkat setelah bersama Douwes Dekker dan Suwardi Suryaningrat turut mendirikan Indische Partij tahun 1912. Partai itu adalah partai politik pertama yang berjuang untuk mencapai Indonesia merdeka.

Akibat kegiatan dalam Komite Bumiputera, ia dibuang ke negeri Belanda pada tahun 1913. Komite itu dibentuk untuk memprotes maksud Pemerintah Belanda merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis.

Belum genap setahun, Tjipto Mangoenkoesoemo sudah  kembali ke Hindia [Indonesia] karena serangan penyakit asma. Ia lalu tinggal di kota Solo. Perjuangannya lalu dilanjutkan di dalam Volksraad, ia terus mengkritik Pemerintah Belanda dan membela kepentingan rakyat kecil.

Akibatnya, pada 1920, ia diusir dari Solo, tempat ia giat mengembangkan studi klub bernama Kartini Club, selain juga menjalankan praktik swasta sebagai dokter. Ia lalu tinggal di Bandung sebagai tahanan kota, tetapi kegiatan politiknya tidak berhenti. Rumahnya menjadi tempat berkumpul dan berdebat tokoh-tokoh pergerakan nasional.

Sekali lagi Pemerintah Belanda bertindak. Pada tahun 1927, Tjipto Mangoenkoesoemo dibuang ke Banda Neira. Setelah tiga belas tahun tinggal di Banda Neira, ia dipindahkan ke Ujungpandang dan dari sana dipindahkan lagi ke Sukabumi, Jawa Barat. Karena udara Sukabumi tidak cocok untuk  penyakit  asma,  ia  dipindahkan lagi ke Batavia.

Pada 8 Maret 1943, ia akhirnya tidak sanggup melawan penyakitnya, dr.Tjipto Mangoenkoesoemo meninggal dunia di Batavia dan akhirnya dimakamkan di  Watu  Ceper,  Ambarawa.  Atas jasa dan pengorbanannya sebagai pejuang pembela bangsa, pemerintah Indonesia memberi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada tahun 1964.