Breaking

Thursday, December 5, 2019

Mengenal Sosok Abdoel Moeis, Seorang Pejuang yang Lantang Meneriakkan Kemerdekaan Indonesia

abdul-moeis-pahlawan-nasional-indonesia
Abdoel Moeis | Pahlawan Kemerdekaan Nasional Indonesia
Ruangsejarah.web.id – Kemerdekaan Indonesia tak akan pernah lepas dari perjuangan para pendahulu kita yang dengan lantang meneriakkan perjuangan bangsa Ini.

…Apakah kemerdekaan Indonesia bagian dari hadiah Penjajah?

Tentu tidak dan saya sendiri keberatan jika kemerdekaan ini dikatakan sebagai sebuah hadiah alias ‘Give Away’ dari mereka yang pernah menjajah bangsa Indonesia.
Ingat, mereka berjuang hingga penetesan darah terakhir melawan penjajah yang ingin menguasai Indonesia ini.

…Bertempur fisik?

Benar, darah meneteske bumi pertiwi ini untuk merebut sebuah kemerdekaan. Tak ada senjata bambu runcingpun mereka gunakan untuk melawan. Keinginan untuk terlepas dari penjajahan dan hidup merdeka adalah cita-cita pendahulu kita.

Mereka sukses dapatkan itu….

Sang Pahlawan telah gugur, namun namanya harum didada bangsa Indonesia. Namanya selalu tersimpan rapi di hati anak bangsa ini.

…Mari menelusur sejarah!

Sebuah poster terpampang di kelas V Sekolah Dasar No. 15 Mataram, Sesosok yang para siswa mengenal bahwa beliau adalah seoarang pahlawan kemerdekaan Indonesia.

…Mereka tahu,

Ya, tahu karena memang di bagian bawah poster tersebut brtuliskan ‘Pahlawan Kemerdekaan Indonesia’ namun selanjutnya dari mulut para guru mereka menuturkan siapa sosok beliau ini.
Disana juga terpampang kapan sosok ini dilahirkan dan tanggal wafatnya, gambar-gambar dan nama pahlawan memang sangat familiar di kalangan siswa Sekolah Dasar, karena ada banyak foto-foto dalam bentuk poster yang dipajang didinding kelas mereka.

…Abdoel Moeis,

Dari banyak nama yang sering disebutkan, ada satu nama yang juga merupakan bagian dari pejuang yang merebut kemerdekaan Indonesia, nama ini yang kita kenal dengan nama Abdoel Moeis. Terpampang bahwa sosok ini dilahirkan di Sungai Puar Agam, Sumatera Barat. Terlahir pada tanggal 3 Juli 1883.

abdul-moeis-pahlawan-nasional-indonesia
Abdoel Moeis | Pahlawan Kemerdekaan Nasional Indonesia

Sepeninggalannya, beliau ini diberi gelar Pahlawan Kemerdekaan Indonesia, Gelar ini diberikan atas dasar penetapan Presiden Republik Indonesia dengan Kepres No. 218 Tahun 1959 bertepatan dengan tanggal 30 Agustus 1959.

…Ketika Abdoel Moeis dengan lantang meneriakkan Kemerdekaan!

Dalam perjalanannya sesosok pahlawan bernama Abdoel Moeis ini pernah menjadi puncak pimpinan redaksi pada salah satu surat kabar Neratja Bandung, setelah itu beliau menulis sebuah artikel tajam dengan judul

“…Perhimpoenan- perhimpoenan terseboet hanja satoe toejoeannja, jaitoe kemerdekaan Hindia...” 

Beliau mulai membangkitkan semangat yang kemudian dihajatkan sebagai  motivasi yang membakar semangat pergerakan pribumi  pada 16 Oktober 1917 tepat di hari pemilihan umum Volksraad Hindia Belanda.

Waktu itu, sosok Abdoel Moeis dikenal memang tegas dan secara lantang jika berkaitan dengan Kemerdekaan Indonesia, saat itu sebutan untuk Pribumi masih dengan kata “Pribumi Hindia”.

“…Hindia Boeat Anak Hindia…”

Inilah seruan lantang yang diterikkan oleh Abdoel Moeis yang ditujukan membangkit gairah anak bangsa. Pedahal, seruan ini menjadi satu hal yang terlarang oleh pemerintah kolonial.
Melawan Kolonial berarti siap ditanggkap!

Menjadi Politikus yang kritis kala itu menjadi hal yang jarang dilakukan oleh bangsa pribumi. Namun, selain menjadi seorang sastrawan hebat, Abdoel Moeis juga merupak soso yang selalu mengkritis Kolonial Belanda.

Salah satu karya sastra yang hebat yang pernah dilahirkan oleh Abdoel Moeis adalah sebuah Novel berjudul Salah Asuhan yang diterbitkan pada tahun 1928 dan karyanya tersebut merupakan sastra Indonesia Modern terbaik.

….Siapa sosok Abdoel Moeis sebenarnya?

abdul-moeis-pahlawan-nasional-indonesia
Abdoel Moeis | Pahlawan Kemerdekaan Nasional Indonesia

Satu hal yang menjadi pertanyaan besar tentang siapa sebenarnya sosok ini hingga berani melawan kebijakan dan mengkritis Kolonial belanda secara tegas?

Tentu bukan sembarangan orang hingga berani seperti ini! Kolonial berkuasa, dengan mudah menangkap dan membuang siapa saja yang bertantangan dengan mereka, apalagi hal tersebut dapat menghambat jalannya pemerintahan Kolonial Belanda.

Setelah menelusuri lebih lanjut, ternyata sosok yang satu ini berasal dari Lereng Gunung Marapi, beliau merupakan Putra dari Datuk Tumangguang Suta Sulaiman. Ayahnya ini merupakan demang yang juga keras melawan kebijakan Kolonial Belanda dan berasal dari Dataran Tinggi Agam.

Saat itu, orang-orang dari kalangan terkemuka seperti Datuk Sutan Sulaiman menyekolahkan anak-anaknya di disekolah ELS [Europeesche Lagere School] dan HBS [Hogere Burger School]. Begitu juga halnya Abdoel Moeis, beliau menyelesaikan pendidikan ELS dan HBS dan kemudian melanjutkan pendidikan ke sekolah Stovia [School tot Opleiding van Indische Artsen] di Batavia meski tidak sampai lulus.

…Pandai Bahasa Belanda?

Meski tidak meyelesaikan pendidikan di Stovia di Batavia, Abdoel Moeismahir berbahasa Belanda bahkan kemampuannya dalam berbahasa Belanda mengalahkan orang Belanda hingga pada akhirnya seorang Direktur Pendidikan (Directeur Onderwzjs) bernama Mr. Abendanon mengangkatnya sebagai seorang juru tulis atau Klerk.

Sejarah ini mencatat bahwa Abdoel Moeis pernah menjadi pegawai belanda meski hingga beertahan hanya selama dua tahun terhitung dari tahun 1903 hingga 1905.

…Naluri Berjuang seorang Abdoel Moeis,

Bekerja menjadi seorang pegawai Belanda bukanlah keinginan seorang Abdoel Moeis, jiwa menantang kebijakan Belandanya bergelora hingga akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Majalah Bintang Hindia. Di sini, Abdoel Moeis menjadi seorang wartawan hingga tahun 1912.

Suatu ketika, entah apa yang ada di fikiran Abdoel Moeis hingga kembali bergabung kembali dengan salah satu surat kabar Belanda, Preanger Bode sebagai korektor.  Berkas kecerdasannya, hanya butuh waktu tiga bulan kemudian dia diangkat menjadi korektor Kepala atau hoofdcorrector.

abdul-moeis-pahlawan-nasional-indonesia
Abdoel Moeis | Pahlawan Kemerdekaan Nasional Indonesia

Ketika Jiwa tak henti bergejolak….

Resah, gelisah hingga jiwa yang memberontak ketika melihat pribumi makin terinjak oleh perlakuan Kolonial Belanda. Keadaan ini membuatnya berfikir keras dan hingga pada akhirnya memutuskan untuk bergabung dalam dunia Politik.

Organisasi pertama yang beliau ikut bergabung adalah bersama Sarekat Islam (SI) sekitar tahun 1913. Berlatarbelakang seorang wartawan yang ahli dalam menulis dan menciptakan narasi kritikan tajam, Abdoel Moeis kembali menunjukan kapasitasnya dalam mengkritik pemerintah Kolonial belanda melaui artikel-artikel tajam yang ditulisnya.

Artikel-artikel Abdoel Moeis sering dimuat dalam De Express milik Indische Partji, beliau mulai mengkritik Pemerintahan Kolonial yang selalu melecehkan rakyat pribumi. Selanjutnya, beliau ikut mengurusi Surat Kabar Oetoesan Hindi yang merupakan media milik Sarekat Islam pada tahun 1915 dan selanjtunya mendirikan Harian Kaoem Moeda di Bandung.

Selain aktif di dua media ini, Abdoel Moeis juga aktif mengirim artikel kritik kepada surat kabar Neratja, disini Abdoel Moeis dengan lantang meneriakkan kemerdekaan bagi bangsa pribumi yang sangat dilecehkan oleh pemerintahan Kolonial Belanda.

Selain bergabung dengan Sarekat Islam, Abdoel Moeis juga mula ikut menjadi anggota Komite Boemi Poetra. Disini beliau selalu menanamkan semangat juang melawan Kolonial Belanda terutama saat Kolonia Belanda sedang berencana menyelenggarakan prayaan 100 tahun kemerdekaan negeri Belanda dari Prancis. Selain itu, Abdoel Moeis dan Komite Boemi Poetra juga melakukan pendesakan terhadap Ratu Belanda agar dapat memberikan kebebasan bagi pribumi dalam hal berpolitik dan bernegara.

…Diplomasi ke Negeri Kincir Agin, Belanda!

Sekitar tahun 1917, Utusan Sarekat Islam pergi ke Belanda untuk mempropogandakan Komite Indie Weerbaar. Dalam kunjungan tersebut, Sarekat Islam menunjuk Abdoel Moeis sebagai perwakilannya. Hal ini juga terkait dengan kemampuan beliau dalam berbahasa Belanda.

Dalam kunjungan diplomasi tersebut, Abdul Moeis dan Sarekat Islam mendorong Belanda untuk mendirikan THS atau Technische Hooge School di Priangan.

Sekembalinya dari negeri Belanda, pada 1918, Abdoel Moeis ditunjuk sebagai anggota Volksraad mewakili Central Sarekat Islam, Ini merupakan bagian dari politik Belanda melihat sosok cerdas Abdoel Moeis.

Ketika Abdoel Moeis mendapat hukuman….

Pada tahun 1919, di Sulawesi terjadi kerja rodi yang dilakukan oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Kala itu, Abdoel Moeis yang mendengar kabar berita tersebut berangkat ke Sulawesi untuk melakukan pidato panantangan terhadap kerja rodi yang dilakukan Pemerintah Kolonial.

Pidato seorang Abdoel Moeisselalu membangkitkan semangat juang bagi yang mendengarnya, begitu juga halnya yang terjadi di Sulawesi. Mereka yang mendengarkan Pidato Abdoel Moeis mulai bergejolak menantang apa yang dilakukan Pemerintah Kolonial Belanda terhadap mereka.

…Kerusuhan terjadi?

Para pribumi yang terkena system kerja rodi mulai melakukan pemberontakan, kerusuhan besarpun tak terhindarkan. Dalam kerusuhan tersebut, seorang pengawas Belanda di Toli-Toli terbunuh.
Dalam kejadian ini, Abdoel Moeis merupakan orang yang paling dianggap bersalah oleh pemerintahan Belanda yang ada di Sulawesi.

Aksi pidato yang membakar semangat pribumi tersebut berakhir dengan hukuman bagi Abdoel Moeis. Hukuman ini dianggap wajar oleh Pemerintahan Kolonial karena Abdoel Moeis telah menghasut pribumi untuk menantang kebijakan Belanda.

Hukuman yang diterima oleh Abdoel Moeis tak membuat semangatnya melawan penjajahan Kolonial redam, Setelah bebas dari hukuman beliau malah menjadi pemimpin Pengurus Besar Perkumpulan Buruh Pegadaian.

“…Aksi dimulai…”

Beberapa kali Abdoel Moeis dan rekan-rekan dari perkumpulan Buruh Pegadaian mengadakan pertemuan untuk mematangkan dan terlibat dalam aksi pemogokan kaum buruh di Jogyakarta. Aksi ini memang sudah mereka rancang bersama kaum buruh sebagai bentuk perlawanan mereka terhadap kebijakan terhadap Pemerintah Kolonial saat itu.

11 Januari 1992,

Abdoel Moeis dan rekan-rekan serta kaum buruh melangsungkan aksi yang membuat pemerintah agak sedikit kerepotan menanganinya. Mereka mengadakkan aksi pemogokan, hari itu pemerintah benar-benar dibuat repot oleh Abdoel Moeis dan kawan-kawannya.

Setahun kemudian, Beliau mengunjungi Padang, Sumatera Barat. Di Padang, Abdoel Moeis mengudang para penghulu adat dan tokoh-tokoh pemuka masyarakat saat itu.  Hajatan Abdoel Moeis kali ini untuk mengajak dan memprotes terkaid peraturan yang diberlakukan Pemerintahan Belanda tentang Pengawasan Tanah.

Undang-undang Pengawasan Tanah dianggap memberatkan masyarakat Minangkabau dan dianggap sangat tidak adil.

…Abdoel Moeis diasingkan?

Kali ini, Pemerintah Kolonial bereaksi keras terhadap apa yang telah dilakukan oleh Abdoel Moeis. Pengaruhnya dalam menghasut para tokoh minangkabau untuk menantang kebijakan Belanda.
Pengaruh yang diberikan Abdoel Moeis terhadap para Penghulu dan Pemuka masyarakat di Padang dianggap berbahaya bagi kelangsungan dan kelancaran kebijakan yang dilaksanakan di Ranah Minangkabau ini.

Pada akhirnya, Abdoel Moeis ditangkap oleh pemerintah Kolonial Belanda. Beliau dilarang untuk tinggal dan menetap di Sumatera untuk selamanya. Selanjutnya, beliau diasingkan ke Garut, Jawa Barat serta dilarang untuk terlibat dalam aktifitas politik.

Selama didaerah pengasingannya, Abdoel Moeis hanya bertani dan menulis. Nah, semasa inilah terbit sebuah novel terkenal karya Abdoel Moeis berjudul “Salah Asuhan”. Tak banyak aktifitas yang bisa dilakukannya selama didaerah pengasingannya.

Kembali terlibat…!

Tarlalu lama menjadi petani, Abdoel Moeis kembali beraksi dan beraktifitas politik melawan penjajahan Kolonial. Beliau mulai lagi terlibat dalam gerakan perjuangan bersama kaum pribumi. Ada banyak aktifitas terselubung yang dilakukannya demi tetap menjada dan membakar semangat juang generasi bangsa.

Sekitar tahun 1926, Abdoel Moeis menjadi anggota Regentschapsraad atau Dewan Kota Garut. Enam tahun kemudian diangkat menjadi Regentschapsraad Controleur hingga Jepang masuk ke Nusantara pada 1942.

Selepas kemerdekaan tahun 1945, Abdoel Moeis masih aktif dalam politik dengan mendirikan Persatuan Perjuangan Priangan yang fokus pada pembangunan di Jawa Barat dan masyarakat Sunda.

…baginya, perjuangan tak pernah berakhir!

Hanya saja kala usia senja menyapa, Sosok Abdoel Moeis tak lagi seagresif dulu. Aktifitasnya mulai berkurang sejalan dengan usiannya yang sudah mencapai 70an tahun. Tepat berusia 75 Tahun, sosok yang dikenal cerdas dan selalu membela rakyat yang tertindas ini menutup usianya dan dimakamkan di taman makam pahlawan Cikutra Bandung.

Kiprah tak hentinya ini, membuat sosok Soekarno ikut terkagum dengan perjuangan beliau. Beberapa kali dalam pidatonya selalu mengenang sosok yang tak kenal mengalah melawan penjajah ini. Hingga pada akhirnya, melalui keputusan Presiden menetapkan Abdoel Moeis sebagai Pahlawan Kemerdekaan Indonesia.

…Semangat, 

Inilah sepenggal cerita perjuangan sosok Abdoel Moeis, seorang anak Datuk yang keluar dari zona nyaman demi pembelaannya terhadap rakyat yang tertidas, keadilan yang ditelantarkan serta kerja rodi yang diterapkan oleh Pemerintahan Kolonial Belanda.

Jika kita hidup di masa itu, mungkin tak akan mampu berbuat banyak apalagi harus mempertaruhkan nyawa melawan ketidakadilan yang dipertontonkan oleh penjajah yang berkuasa dimasa itu, maka perjuangan kita saat ini adalah bagaimana Bangsa kita menjadi bangsa yang Besar, bangsa yang disegani oleh bangsa lainnya serta bangsa yang mampu berdiri dikaki sendiri bukan bergantung pada bangsa lainnya, apalagi sampai direndahkan!



No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Your Ad Spot