Breaking

Thursday, December 5, 2019

Menelusuri Sang Jenderal yang Bernama Ahmad Yani, Sosok Pemberani yang Memimpin Perlawanan Terhadap Pemberontakan PRRI

Jenderal-Ahmad-Yani
Sosok Jenderal Ahmad Yani



Ruangsejarah.web.id – Jika saat ini kamu berjalan kewilayah-wilayah kota besar yang ada di Indonesia, maka kamu pasti menemukan jalanan besar yang diberi nama “Jalan Jenderal Ahmad Yani”.

…Mengapa?

Pemberian nama jalan seperti ini bukan tanpa alasan, hal ini adalah bentuk penghargaan dan penghormatan bangsa terhadap sosok yang pernah berjuang dalam sejarah gelap Bangsa Indonesia. Walaupun sosoknya telah tiada secara lahiriah namun semangat dan nilai perjuangannya masih terus diingat oleh anak Bangsa ini.

Sejarah mencatat bahwaJenderal Ahmad Yani adalah salah satu dari sekian jenderal yang menghembuskan nafas terahirnya didalam sumur tua bergelar “Lubang Buaya”.

…Sebelumnya?

Sang Jenderal yang satu ini terkenal ganas dan pemberani dalam beberapa aksi nyata melakukan serangan dan penumpasan terhadap beberapa pemberontak yang datang dari dalam Indonesia ini sendiri.

Dalam aksi lainnya, Jenderal Ahmad Yani juga terlibat dalam memimpin pasukan dalam mengusir sekutu yang saat itu sudah mulai menguasai Malang, aksi ini memaksa Sekutu terdesak ke wilayah Ambarawa hingga ke Semarang. 

Setelah itu, Jenderal Ahmad Yani juga membentu pasukan Banteng Raiders dengan latihan-latihan khusus, waktu ditugaskan menghancurkan gerombolan DI/TII Jawa Tengah.  Kita ingat kala itu pemberontakan justru datang dari dalam Indonesia sendiri. 

Sebenarnya, pemberontakan ini juga tidak lepas campur andil luar dalam menghancurkan Indonesia dalam mempertahankan Kemerdekaan yang sudah di raih Bangsa Indonesia.

…Jenderal yang ahli dalam operasi gabungan,

Jenderal Ahmad Yani bukanlah sosok biasa, Seorang cerdas dengan pendidikan tinggi dan keahlian Mengenai Opreasi Gabungan. Keahilan tersebut didapat dari pendidikannya di Command and General Staff College di Fort Leavenworth (Amerika Serikat).

Keahlian tersebut dipakainya saat melakukan penumpasan Pemberontakan PRRI/Permesta di Sumatra Barat. 

Nah, Operasi ini dikenal dengan nama Operasi 17 Agustus dan hanya dipersiapkan dalam waktu singkat, matang, dan berhasil dengan baik. PRRI berhasil dilumpuhkan oleh pasukan yang dipimpin Jenderal Ahmad Yani di Sumatera Barat tersebut.

Aksi demi aksi yang dilakukan seorang Jenderal Ahmad Yani, mengantarkannya pada titik kepercayaan untuk memegang jabatan-jabatan penting didalam tubuhAngkatan Darat hingga pada tahun 1962 ia diangkat menjadi KSAD.

…Ingat,

Jabatan KSAD bukanlah sembarang jabatan, orang yang mengisi jabatan tersebut juga bukan orang sembarangan, kala itu Menjadi KSAD adalah sebuah prestasi yang luarbiasa.

Apakah Jenderal Ahmad Yani sosok yang istimewa…?

Mari menelusuri lebih jauh lagi,

Secara formal Jenderal TNI Anumerta Achmad Yani pernah bersekolah di HIS Bogor yang diselesaikannya pada 1935. Kemudian  ia melanjutkan sekolahnya ke MULO kelas B dan  tamat  pada  1938. 

Pada jenjang selanjutnya, ia masuk AMS bagian B di Jakarta. Sekolah ini dijalaninya hanya sampai kelas dua, sehubungan dengan adanya milisi yang diumumkan oleh Pemerintah Hindia Belanda. 

…Titik awal karir Militer!

Ia kemudian mengikuti pendidikan militer pada Dinas Topografi Militer di Malang dan secara lebih intensif mendapatkan pelatihan militer di Bogor. 

Jenderal Ahmad Yani adalah sosok yang pintar dan terus mau belajar, jiwa ini selalu tertanam didalam dirinya termasuk kala dalam pelatihan militernya.

Dari sana ia mengawali karier militernya dengan pangkat Sersan. Setelah tahun 1942, dimasa Jepang, ia mengikuti pendidikan Heiho di Magelang dan selanjutnya masuk tentara Pembela Tanah Air [PETA] di Bogor.

Dalam uraian sejarah selanjutnya, Sebuah formasi Tentara Keamanan Rakyat terbentuk atau yang lebih dikenal dengan sebutan TKR. Saat itu, karir militer Ahmad Yani mulai merengsek naik yang kemudian ia pun ditunjuk untuk menjadi pemimpin atau komandan TKR kawasan Purwokerto.

Hal ini juga langsung berhadapan dengan Agresi Militer Pertama Belanda terjadi, Kala itu pasukan yang dipimpin oleh Achmad Yani yang beroperasi di daerah Pingit berhasil menahan serangan Belanda di daerah itu hingga pada akhirnya dapat diredam. 

Aksi-aksi Jenderal Ahmad Yani selalu brilliant dan sukses, membuat karir militernya semakin melejit. Strategi-strategi yang dilakukannya selalu mampu menghadang lajunya pergerakan lawan, memukul mudur lawan adalah tujuan dari setiap aksinya. Jadi tak heran jika apa yang dilakukan oleh 

Jenderal Ahmad Yani selalu memiliki pengaruh terhadap kecemerlangan karir militernya.
Sedangkan pada Agresi Militer Kedua Belanda terjadi, Jenderal Ahmad Yani dipercayakan memegang jabatan sebagai Komandan Wehrkreise II yang meliputi daerah pertahanan Kedua.
Setelah Indonesia mendapat pengakuan kedaulatan, ia diserahi tugas untuk melawan DI/TII. Ia berhasil dengan baik. Setelahnya, ia menjadi Staf Angkatan Darat.

Pada 1955, Achmad Yani disekolahkan pada Command and General Staff College di Fort Leaven Worth, Kansas, USA selama sembilan bulan. Pada tahun 1956, ia juga mengikuti pendidikan selama dua bulan pada Spesial Warfare Course di Inggris. Tahun 1958 saat pemberontakan PRRI terjadi di Sumatra Barat, Achmad Yani yang masih berpangkat Kolonel diangkat menjadi Komandan Operasi 17 Agustus untuk memimpin penumpasan pemberontakan PRRI dan berhasil menumpasnya. 

Hingga pada tahun 1962, ia diangkat menjadi Menteri/Panglima Angkatan Darat.

Situasi memanas di tahun 1965. Pada 1 Oktober terjadi aksi klandestin Gerakan 30 September. Sebuah kekisruhan di tubuh Angkatan Darat membawa akibat fatal. Sekelompok tentara gelap mendatangi rumah Achmad Yani, memaksa masuk dan menembak mati Yani di depan kamar tidurnya. Jenazahnya kemudian dibawa ke Lubang Buaya Jakarta Timur. 

Jenazahnya segera dicari dan kemudian dimakamkan secara layak di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Pemerintah memberikan gelar Pahlawan Revolusi kepada Achmad Yani yang ditetapkan tepat di hari peringatan angkatan bersenjata RI pada 1965.



No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Your Ad Spot